Latest Entries »

DAFTAR NAMA SISWA SISWI KELAS VI

MIN SUCI KALER KARANGPAWITAN GARUT

TAHUN PELAJARAN 2011/2012

NO NAMA TTL
1 ADE MELA 24 Januari 2000
2 ADJIE ANGGA PANGESTU 14 Februari 2000
3 AI FINARIA 27 Mei 2000
4 AIF ABDUL RAHMAN 01 Juni 2000
5 AMBI VRINALDY 23 Oktober 1998
6 ANGGA ADILA PUTRA 10 Oktober 2000
7 ANISA BASIMAH 03 Agustus 1999
8 ANISA DELIANA PUTRI 17 Juli 2000
9 ANNISA FAUZIAH 09 Desember 1999
10 ASTRI HANDAYANI 13 Juni 1999
11 DEDE AGIT SOPIYANA 02 Juni 2000
12 DENI MUHAMMAD RAMDANI 26 Desember 1999
13 DENI RAMDANI 22 Desember 1999
14 DEWI PUTRI INTAN RENGGANIS 08 Agustus 2000
15 DWI SAPUTRA 30 Juli 1999
16 ELVAN SEPTIARIANDI 09 September 1999
17 EMIL WAFA KAMILAH 10 Mei 1999
18 FATIMAH NUR ZAHRO 14 Oktober 2000
19 FIKA SITI NOVIANTI 2 November 1999
20 FIRAS DAMAR ALAM 24 April 2000
21 GILANG NUGRAHA 01 Juni 1998
22 HANIFAH MELINA HIDAYATI 05 Mei 2000
23 HELDI RISTIADI 28 Mei 2000
24 IKBAL SAEPUL SIHAB 12 Februari 2000
25 IMAM FIRMANSYAH 27 Februari 2001
26 INDRIANI PAUZIAH 07 Februari 2000
27 INTAN ANDINI 01 Juli 1999
28 INTAN SAPITRI 24 Februari 2000
29 KHOIRIN NAJIB 22 November 1999
30 LENA NURHAYATI 28 November 1999
31 MAHMUD DUMYATI 04 Agustus 2000
32 MELIN RISTIANI 15 Desember 1999
33 MOHAMAD RIZALDI 06 September 2000
34 MUHAMAD YOPI SOPIAN 13 Januari 1999
35 NOVITA REZA 1 November 1999
36 NURUL AZIZAH 15 Agustus 2000
37 NURYA SAEPUL AZIS 13 Maret 2001
38 REMA WIJI ASTUTI 06 Agustus 1999
39 RESHA RESTIA 16 Maret 2000
40 RESTI ALFIYAH KHOERUNISA 17 Juni 2000
41 RIKI NUR SAHDAN 28 Agustus 2000
42 RIPA SITI RAHAYU 28 Desember 1999
43 RIPAN NURJAMAN 08 Juli 1999
44 RITA NURJANAH 31 Juli 1999
45 ROSSA SRI ARIYANI 12 Juli 2000
46 SATRIA PRADANA 06 Agustus 2000
47 SIDIK ISMAIL 07 April 2000
48 SINTA PURWATI 08 Februari 2000
49 SITI DEWI YULIANI 16 Juli 2000
50 SITI ISMA RAHMAWATI 11 Februari 2000
51 SITI NURANISA 02 Januari 2000
52 SITI RIANA HAKIKI 17 Februari 2000
53 SONIA SINTIA LESTARI 27 November 2000
54 SRI MEISA INDRIANI 16 Mei 2000
55 SRI WAHYUNI 11 Mei 1999
56 TIA SINTIA 07 Desember 2000
57 UJANG MUHAMAD 16 Desember 1997
58 VINA FITRIANI 01 Januari 2000
59 VINNY SITI FAJARWATI 30 September 2000
60 WALIYADIN 17 April 1999
61 YANI DEVITASARI 17 Oktober 1999
62 YOGA ADITYA 4 November 1999
63 YOGI ANUGRAH 17 Juni 2000
64 YULIANTI 20 Juni 1999
65 YUNAN 07 Agustus 2000
66 YUNI SARI 24 November 1999

KLIK FILE DI BAWAH UNTUK MENDOWNLOAD BUKU TAHUNAN MIN SUCI KALER 2012

BUKU TAHUNAN MIN SUCI KALER

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

27 September 2011

[MIN Suci Kaler Karangpawitan] | Garut

batik garutan LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI

 

 

 

 

 

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI BATIK TULIS GARUTAN “RM”

 

Jl. Papandayan No. 54 Garut – 44118, Jawa Barat

Telp. (0262) 231028, Fax. (0262) 232436,
E-mail:  
batikgarutanrm @ yahoo.com

oleh :

 

Mengetahui:                                                         Garut, September 2011

Kepala MIN Suci Kaler                                                        Pembimbing

 

 

 

                Amas Masdar, S.Ag                                                 Somadin Sobar, S.Pd.I

NIP. 19611210 198303 1 009                                   NIP. 19690505 200701 1 002

 

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji bagi Allah SWT, karena berkat rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan laporan kunjungan industri Batik Tulis Garutan “RM”  dengan tepat waktu.

Penulisan laporan kunjungan industri ini merupakan salah satu dokumentasi kegiatan kesiswaan pada tahun pelajran 2011/2012

Selesainya laporan kunjungan industri ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih, Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi siswa siswi MIN Suci Kaler.

Kami menyadari dalam penulisan laporan kunjungan industri ini banyak kekurangan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan selanjutnya.

 

 

Garut, September 2011

 

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………     1

HALAMAN PENGESAHAN  ………………………………………………     2

KATA PENGANTAR  ………………………………………………………     3

DAFTAR ISI …………………………………………………………………     4

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Kunjungan Industri   …………………………………….      5
  2. Tujuan Kunjungan Industri  ………………………………………………..      5

BAB II IDENTIFIKASI PERUSAHAAN

  1. Sejarah Batik Dunia ………………………………………………………….      6
  2. Sejarah Batik Indonesia   ……………………………………………………    13
  3. Sejarah Batik Garutan    …………………………………………………….    16
  4. Identitas Perusahaan  ………………………………………………………..    17

BAB III BATIK TULIS GARUTAN RM

  1. Hasil Observasi    ……………………………………………………………..    18
  2. Contoh Batik Tulis Garutan  ……………………………………………….    22

BAB IV PENUTUP

  1. Kesimpulan    …………………………………………………………………..    24
  2. Kesan dan Saran    ……………………………………………………………    24

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.  Latar Belakang Kunjungan Industri

Kunjungan industry ini di latar belakangi agar para siswa dapat mengetahui tentang dunia kerja, terutama di bidang kerajinan yang merupakan bagian dari kurikulum madrasah yaitu mata pelajaran SBK (Seni, Budaya, dan Kerajinan). Selain itu juga agar siswa mendapatkan pengalaman dan wawasan tentang dunia usaha baik khusus maupun umum. Dan kunjungan industri ini dapat mendorong siswa agar lebih semangat belajar untuk dapat mencapai kesuksesan di masa yang akan datang atau peserta didik nantinya dapat memasuki dunia kerja, maka dengan adanya kunjungan industri ini siswa dapat mempunyai gambaran bila nanti akhirnya memasuki dunia kerja.

 

  1. B.  Tujuan Kunjungan Industri

Adapun beberapa tujuan diselenggarakannya kunjungan industri bagi siswa sebagai berikut:

  1. memperluas pengetahuan siswa dalam lingkungan dunia kerja.
  2. mendorong siswa agar mempunyai minat bekerja di perusahaan.
  3. membantu siswa melaksanakan kegiatan kesiswaan.
  4. memberi informasi tentang cara kerja dan tenaga kerja perusahaan.
  5. mendorong siswa agar mempunyai rasa kedisiplinan dan tanggungjawab.

 

 

 

BAB II

IDENTIFIKASI PERUSAHAAN

  1. A.  Sejarah Batik di Dunia

 

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Sejarah Pembatikan Di Dunia Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman. Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

Sejarah Pembatikan Di Indonesia (Nusantara) Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.

Perkembangan Batik Di Indonesia Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Proses Pembuatan Batik dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

Batik Pekalongan Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju. Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah – daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik. Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.

Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.

Etimologi Kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik”. Budaya batik
Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan. Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta. Batik Cirebon bermotif mahluk laut

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. Corak batik
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Cara pembuatan Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik Menurut teknik :

•   Batik tulis

adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.

•   Batik cap

adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

•   batik saring

•   batik celup

•   batik terap

Menurut asal pembuatan Batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunya motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

  • Batik Tiga Negeri

Batik Tiga Negeri dikenal lewat warnanya yang terdiri dari tiga bagian. Ada biru, coklat/sogan, dan merah. Batik ini kadang dikenal sebagai Batik Bang-Biru atau Bang-Bangan untuk variasi warna yang lebih sederhana. Ada yang mengatakan kalau pembuatan batik ini dilakukan di tiga tempat yang berbeda. Biru di Pekalongan, Merah di Lasem, dan Sogan di Solo. Sampai sekarang kerumitan detail Batik Tiga Negeri sukar sekali direproduksi. Batik.

  • Batik Jawa Hokokai 1942-1945

Batik Jawa Hokokai. Dibuat dengan teknik tulis semasa pendudukan Jepang di Jawa (1942-1945). Ia berupa kain panjang yang dipola pagi/sore (dua corak dalam satu kain) sebagai solusi kekurangan bahan baku kain katun di masa itu. Ciri lain yang mudah dikenali adalah pada motifnya. Motif kupu-kupu, bunga krisan, dan detail yang bertumpuk menjadikan Batik Jawa Hokokai menempati posisi karya seni yang mulia. Batik jenis Jawa Hokokai biasanya dikerjakan oleh lebih dari 10 orang yang masing-masing memegang peran proses pembatikan yang berbeda. Sistem padat karya seperti ini juga memungkinkan para pekerja di industri batik tidak di PHK. Kemiskinan dan kesulitan akibat Perdang Dunia ke-II nyata-nyata memengaruhi seni Batik di Indonesia.

 

  • Batik Buketan

Batik Buketan asal Pekalongan dengan desain pengaruh Eropa

  • Batik Lasem

•   Batik Buketan.

Batik Indonesia dengan desain pengaruh Eropa. Batik Buketan asal Pekalongan dengan desain pengaruh Eropa. Batik Indonesia yang dengan desain pengaruh Eropa.

•   Batik Lasem.

Batik Lasem dikenal karena warna merahnya yang khas. Di Lasem (Jawa Timur) sendiri, pengrajin batik sudah sangat berkurang. Beberapa kolektor menyebut Batik Lasem adalah batik yang tercantik diantara yang lain. Batik ini juga menjadi penanda pencampuran dua budaya, Jawa dan Cina.

 

 

 

 

  1. B.  Sejarah Batik di Indonesia

Batik berasal dari bahasa jawa yaitu dari kata “amba” yang artinya menulis dan “titik” yaitu titik-titik, sehingga kemudian menjadi ambatitik-ambatik-mbatik-batik. Betul, pada awalnya batik semuanya dikerjakan secara manual yaitu dengan menulis menggunakan tangan sehingga dikenal sebagai batik tulis.

Kesenian membatik sudah dimulai sejak zaman Majapahit, bekas jejaknya dapat ditemui di Mojokerto dan Tulungagung. Mojokerto sebagai Ibukota kerajaan Majapahit dan Tulungagung yang dulunya bernama bonorowo (karena memang dahulu sekelilingnya adalah rawa-rawa) dipimpin oleh Adipati Kalang, yang dalam kisahnya tidak mau tunduk kepada Majapahit, sampai pada akhirnya tewas dibunuh, dan saat itulah perajin batik dari Majapahit mulai mengenalkan seni batik di kota bonorowo yang sekarang bernama Tulungagung.

Batik dari sisi geografi dibagi menjadi 2 yaitu batik pesisir dan non pesisir. Batik non pesisir adalah batik tradisional yang umumnya masih memegang pakem. Batik-batik ini banyak kita jumpai di daerah Solo dan Jogjakarta. Batik-batik ini dahulunya kebanyakan dipakai oleh kalangan terbatas saja (kerabat keraton) dan untuk acara tertentu harus menggunakan corak tertentu pula. Acara perkawinan, kain batik yang digunakan harus bermotif Sidomukti dan/atau Sidoluhur. Sedangkan untuk acara mitoni (7 bulanan), kain batik yang boleh digunakan adalah bermotif Ceplok Garuda dan/atau Parang Mangkoro, begitu seterusnya untuk acara-acara upacara adat yang lain.

Batik pesisir memiliki kebebasan berekspresi, yaitu corak-corak tidak memiliki pakem, umumnya berwarna cerah/berani dan motifnya sangat kaya dan cantik-cantik. Batik pesisir ini telah berakulturasi dengan budaya asing, seperti motif bunga-bunga dipengaruhi oleh India dan Eropa (bunga Tulip), warna merah dipengaruhi oleh China sekaligus membawa motif burung phoenix, kupu-kupu, dst. Sedangkan motif-motif hewan laut (kerang, bintang laut dsb) adalah motif asli batik tulis pesisir nusantara. Batik pesisir ini dapat kita temui di daerah Pekalongan, Cirebon, Lasem, Tuban, TanjungBumi-Bangkalan-Madura dan daerah Madura pada umumnya.

Orang-orang di daerah pesisir ini dahulunya membatik hanya untuk keisengan belaka untuk menghilangkan kejenuhan seperti di daerah Tuban, para Ibu-Ibu membatik dilakukan pada masa menunggu musim panen, sedangkan ketika musim panen, semua akan turun ke sawah. Untuk daerah Cirebon dan TanjungBumi lain lagi, mereka membatik karena kangen menunggu suaminya pulang dari melaut

 

Batik dari sisi cara pembuatannya dibagi 4 yaitu batik tulis, batik cap, batik cetak dan batik print. Batik cap menggunakan alat dari tembaga yang telah dipola dan nanti akan diceplok-ceplokkan ke atas kain yang telah disiapkan, batik cetak menggunakan alas (terpal/plastik) yang telah dipola yang nantinya akan dilekatkan ke kain yang telah disiapkan. Batik print menggunakan pola yang digambar di komputer, menyiapkan printer, tinggal enter, maka kain akan langsung dicetak dengan motif yang diinginkan. Batik tulis seperti yang telah ditulis diawal, dipola, digambar, diwarnai semuanya secara manual menggunakan tangan dan digambar dengan sepenuh jiwa, maka tidak heran, seorang profesional pun hanya mampu menghasilkan satu lembar kain batik tulis (225 x 110 cm) paling cepat dalam waktu 1 minggu. Oleh karenanya, batik tulis itu mahal kalau hanya dilihat dari nominal uang yang kita keluarkan, tapi untuk sebuah karya seni, penghargaan terhadap daya kreasi yang telah dituangkan, nilai tersebut menjadi wajar dan bahkan lebih rendah dari value hasil karya yang telah dihasilkan

Perbedaan mendasar lainnya, baik batik cap, batik cetak dan batik print pada umumnya bahan pewarnaan menggunakan bahan-bahan kimia, sedangkan batik tulis untuk bahan warnanya semuanya menggunakan bahan-bahan alami seperti kulit pohon, kayu pohon, bunga, buah, akar pohon, daun dsb. Karena pada dasarnya, setiap kulit/kayu/buah/akar pohon adalah unique, menghasilkan warna-warna tertentu.

Dalam pembuatan Batik Tulis akan melalui beberapa tahapan proses :

1. Ngloyor, yaitu proses membersihkan kain dari pabrik yang biasanya masih mengandung kanji, menggunakan air panas yang dicampur dengan merang atau jerami.

2. Ngemplong, yaitu proses memadatkan serat-serat kain yang baru dibersihakan.

3. Memola, yaitu pembuatan pola menggunakan pensil ke atas kain.

4.  Mbatik, yaitu menempelkan lilin/malam batik pada pola yang telah digambar menggunakan canthing.

5. Nembok, yaitu menutup bagian yang nantinya dibiarkan putih dengan lilin tembokan.

6. Medel, yaitu mencelup kain yang telah dipola, dilapisi lilin ke pewarna yang sudah disiapkan.

7. Ngerok/Nggirah, yaitu proses menghilangkan lilin dengan alat pengerok.

8. Mbironi, yaitu menutup bagian2 yang akan dibiarkan tetap berwarna putih dan tempat2 yang terdapat cecek (titik titik).

9. Nyoga, yaitu mencelup lagi dengan pewarna sesuai dengan warna yang diinginkan.

10.Nglorod, yaitu proses menghilangkan lilin dengan air mendidih untuk kemudian dijemur.

Proses pewarnaan, penghilangan lilin dapat dilakukan berkali-kali sampai menghasilkan warna dan kualitas yang diinginkan. Makanya kemudian ada Batik dengan istilah 1x proses, 2x proses, 3x proses. Batik Tulis 1x proses pun, dapat diselesaikan oleh ahlinya paling cepat dalam waktu 1 minggu, apalagi yang melalui 2x proses, 3x proses dan seterusnya, bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Batik tulis garutan

 

 

  1. C.  Sejarah Batik Garutan

Kegiatan dan usaha pembatikan di Garut merupakan warisan nenek moyang yang berlangsung turun temurun dan telah berkembang lama sebelum masa kemerdekaan. Pada tahun 1945 Batik Garut semakin popular dengan sebutan Batik Tulis Garutan dan mengalami masa jaya antara tahun 1967 s.d. 1985 (126 unit usaha).

Dalam perkembangan berikutnya produksi Batik Garutan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh semakin pesatnya batik printing/batik cap, kurangnya minat generasi penerus pada usaha batik tulis, ketidaktersediaan bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran.

Batik garutan umumnya digunakan untuk kain sinjang, namun berfungsi juga untuk memenuhi kebutuhan sandang dan lainnya. Bentuk motif batik Garut merupakan cerminan dari kehidupan sosial budaya, falsafah hidup, dan adat-istiadat orang Sunda. Beberapa perwujudan batik Garut secara visual dapat digambarkan melalui motif dan warnanya.

 

Berdasarkan pemikiran yang melatarbelakangi penciptaan batik Garut, maka motif-motif yang dihadirkan berbentuk geometrik sebagai ciri khas ragam hiasnya. Bentuk-bentuk lain dari motif batik Garut adalah flora dan fauna. Bentuk geometrik umumnya mengarah ke garis diagonal dan bentuk kawung atau belah ketupat. Warnanya didomiansi oleh warna krem dipadukan dengan warna-warna cerah lainnya yang merupakan karakteristik khas batik garutan.

 

Saat ini pengolahan batik garutan terkonsentrasi di Garut Kota.  Rata-rata kapasitas produksi per tahun adalah 1.600 potong. Adapun potensi industri Batik Tulisan Garutan pada tahun terakhir tercatat sebagai berikut :

 

 

 

Uraian

Formal

Non Formal

Jumlah

Jumlah Unit Usaha (Unit)

3

5

8

Tenaga Kerja (Orang)

25

25

50

Investasi (000 Rp)

30.000

20.000

50.000

Nilai Produksi (000 Rp)

450.000

238.000

688.000

Wujud Produksi Produk Sandang, Sinjang, Kain Bahan, dll
Daerah pemasaran Jakarta , Bandung , Bali , dll
Sumber : Dinas Perindagkop & UKM Kabupaten Garut

 

 

 

 

 

  1. D.  Identitas Perusahaan

 

BATIK TULIS GARUTAN “RM”

Status Perusahaan : Kantor Tunggal
Alamat Perusahaan : Jl. Papandatan No. 54
Telepon : 62-262 232436
Fax : 62-22 5223271
Penanaman Modal : Non Fasilitas
Badan Hukum : Perusahaan Perorangan
Jenis Fasilitas : Pabrik
Kerjasama : Mandiri
Status Pendaftaran Perusahaan : Terdaftar
Jenis Perusahaan : Swasta
Bentuk Koperasi : Bukan Koperasi
Golongan Usaha : Kecil
Contact Persons : Sri Husaodah M
Common Product Key : Batik Tulis Garutan
Pemasaran : Regional, Asia, Eropa
Tenaga Kerja : 62 Orang
Permasalahan : Akses ke sumber pendanaan

 

 

 

BAB III

BATIK GARUTAN “RM”

 

Seperti yang juga dialami sejumlah motif batik lainnya di tanah air, Batik Tulis Garutan juga sempat mengalami pasang surutnya industri kerajinan batik nasional. Dewasa ini hanya tersisa beberapa pengusaha batik motif Garutan yang masih setia menggeluti industri kerajinan batik ini. Selebihnya, terpaksa harus gulung tikar karena tidak dapat bersaing di pasar terutama dengan pesatnya perkembangan industri tekstil modern.

Ny. U. Sri Husaodah Muharam adalah satu diantara pelaku usaha kerajinan batik Garutan yang masih tersisa saat ini. Dengan batik tulis Garutan merek ‘RM’-nya, Sri Husaodah sudah mulai merintis dalam mengembangkan industri kerajinan batik tulis Garutan sejak tahun 1979. Nama RM sendiri merupakan singkatan nama tiga anaknya yang semua sama-sama memiliki inisial RM.

 

Pada awalnya Ny. Sri Husaodah tidak langsung membuka usaha industri kain batik tulis Garutan secara komersial. Dia hanya membuat kain batik mulai dari merancang desain dan motif batik tulis hingga menjadi kain batik untuk kebutuhan sendiri. Namun ternyata setelah menjadi kain batik, banyak tetangga yang tertarik membelinya. Para tetangga tersebut kemudian memesan pembuatan kain batik tulis kepada Ny. Sri Husaodah.

Setelah mendapatkan kenyataan bahwa animo masyarakat sekitar cukup besar terhadap kain batik tulis Garutan yang diproduksinya, Ny. Sri Husaodah baru menyadari bahwa di hadapannya terdapat peluang usaha yang sangat potensial untuk ditekuni secara serius. Karena itu, Ny Sri Husaodah kemudian merekrut sejumlah karyawan untuk membantu menjalankan kegiatan usaha barunya itu. Dia pun mulai menggarap usaha industri kerajinan batik tulis Garutan tersebut secara komersial.

Ny. Husaodah sendiri termasuk seorang pionir dalam pengembangan industri kerajinan batik tulis di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Apa yang telah dirintis Ny. Sri Husaodah itu kini diteruskan oleh anak-anaknya. Ketiga anak Ny. Sri Husaodah pun kini sudah turut terjun dalam pengembangan industri kerajinan batik tulis Garutan.

Secara keseluruhan di Kabupaten Garut, Jawa Barat dewasa ini terdapat empat industri kerajinan batik tulis Garutan dan keempatempatnya merupakan hasil didikan Ny. Sri Husaodah sendiri. Beberapa diantaranya merupakan industri kerajinan batik tulis Garutan yang didirikan oleh mantan karyawan Ny. Sri Husaodah.

Menurut Ny. Sri Husaodah, industri batik tulisan Garutan memiliki kurang lebih 70 motif dasar sebagai warisan budaya dari para leluhur sebelumnya. Namun dari 70 motif dasar itu kini sudah berkembang berbagai modifikasi motif sehingga bermunculanlah motif-motif baru batik tulis Garutan.

Beberapa jenis motif batik Garutan yang banyak dipakai antara lain lereng dokter, lereng calung, kucubung, lereng jaksa, bilik, merak ngibing, bulu hayam, batu ngampar dan lain-lain. Ciri khas batik tulis Garutan diantaranya adalah penggunaan warna dasar broken white (atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan warna gading) yang divariasi dengan warna biru dan saga (merah cake dan merah bata), ungu dan lain-lain.

Kini Batik Tulis Garutan ‘RM’ rata-arat memproduksi 10-15 potong kain per bulan dengan menggunakan bahan kain dasar berupa kain katun. Selain itu, Batik Tulis Garutan RM juga memproduksi kain batik tulis dari bahan dasar kain sutera rata-rata 10 potong kain per bulan serta batik cap hingga 400 potong kain per bulan tergantung kepada jumlah pesanan yang masuk.

Produk kain Batik Tulis Garutan RM kini sudah dipasarkan baik di pasar dalam negeri maupun di pasar mancanegara. Di dalam negeri sendiri, produk batik Garutan merek RM dipasarkan ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lain. Pada saat hari libur biasanya banyak juga para pembeli yang sengaja datang dari luar daerah untuk membeli produk kain Batik Tulis Garutan RM. Dengan total jumlah karyawan 62 orang, Ny. Sri Husaodah kini memiliki tiga showroom/galeri batik, yaitu satu showroom di Garut (Jl. Papandayan No. 54), satu di Bandung (Jl. Buah Batu No. 151) dan satu lagi di Jakarta (ITC Kuningan, Lt. Semi Dasar Los E7/6). Produk batik tulis Garutan RM dijual dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 60.000 per potong hingga Rp 4,5 juta per potong.

Sementara itu, pemasaran ke luar negeri dilakukan ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, China, Vietnam, Mesir, Kanada, Australia, Perancis, Belanda dan sejumalh negara Timur Tengah. Untuk memperkuat pemasaran ke luar negeri, Ny. Sri Husaodah seringkali mengikuti berbagai pameran di luar negeri seperti pameran di Sarjah, Dubai, Kairo, Beijing, Guangdong dll.

Banyak diantara pembeli luar negeri memesan batik tulis Garutan kepada Ny. Sri Husaodah setelah mereka melihat contoh produk batik tulis Garutan tersebut di pameran di luar negeri. Diantara mereka ada yang menjadi pelanggan tetap (memesan secara rutin), ada yang melakukan repeat order, ada juga pembeli yang sudah lama tidak memesan kemudian memesan lagi.

 

 

 

 

B. Contoh Batik Garutan

 

 

 

Primis Kencana Super
Batik Tulis Garut terkenal dengan corak Merak Ngibing (The Dancing Peacock), dan tak ketinggalan pula corak kupu-kupu yang sangat cantik.

 

 

Primis Kencana Premium
Corak dengan detail yang lebih halus ini menghasilkan Batik yang tidak saja cantik, namun juga menghasilkan kualitas Premium dari sebuah karya seni Batik Tulis.

 

 

Primis Kencana Xtra
Corak klasik mendominasi Batik Tulis Garut ini, Kupu2, kipas, gambar keraton adalah sedikit contoh dari corak Batik Tulis Garut yang sudah ada sejak zaman dulu.

 

Primis Kencana Xtra Plus
Batik Tulis Garut dengan kualitas Platinum, coraknya adalah pilihan dan hanya dikerjakan oleh para expert. Merak adalah corak andalan yang paling sering muncul pada tipe ini.

 

 

Primis Kencana Tipe Sarung
Batik Tulis Garut tipe sarung (memakai tumpal).

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A.  Kesimpulan

Setelah mengunjungi dan mengamati di Batik Tulis Garutan “RM” tentang segala hal yang berhubungan dengan proses pembuatan batik tulis, kami dapat belajar mengenai masalah-masalah umum maupun khusus yang bisa terjadi pada pengrajin batik. Selain itu kami jadi mengetahui kegiatan apa saja yang terjadi di dalam proses pembuatan batik tulis.

 

  1. B.  Kesan dan Saran

Untuk menjadi bahan referensi dalam kunjungan industri berikutnya, kami mempunyai beberapa masukan yang mungkin bisa bermanfaat.

  • Kesan:
  1. Sambutan dari pihak perusahaan sangat ramah dan baik.
  2. Kunjungan industri ini sangat bermanfaat, karena kita bisa melihat langsung karyawan-karyawan yang sedang bekerja di perusahaan tersebut.
  3. Banyak pengalaman yang kami peroleh di perusahaan tersebut.
  4. Kami mendapatkan banyak keterangan mengenai perusahaan yang diperlukan.
  • Saran:
  1. Sebaiknya pimpinan lebih jelas dalam menerangkan atau menjelaskan tentang bagian-bagian atau tugas-tugas karyawanya.
  2. Kegiatan lebih baik disesuaikan dengan jadwal, karena banyak kegiatan yang tidak sesuai rencana awal.

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

     LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI

    OBSERVATORIUM BOSSCHA LEMBANG BANDUNG

 

NAMA KELOMPOK     :  KELAS VI A

ANGGOTA

NO

NAMA

L/P

DAFTAR HADIR

1

ADE MELA

L

2

ADJIE ANGGA

L

3

AIF ABDUL RAHMAN

L

4

ALDI RIZALDI

L

5

ANGGA ADILA PUTRA

L

6

ANISA DELIANA PUTRI

P

7

ASTRI HANDAYANI

P

8

DENI RAMDANI

L

9

DWI SAPUTRA

L

10

ELVAN SEPTIARIANDI

L

11

FATIMAH NUR JAHRO

P

12

FIRAZ DAMAR ALAM

L

13

HANIPAH MELINA

P

14

HELDI RISTIANA

L

15

IMAM FIRMANSYAH

L

16

INDRIANI FAUZIAH

P

17

INTAN ANDINI

P

18

INTAN SAFITRI

P

19

JAMAL JAELANI

L

20

MAHMUD DUMYATI

L

21

MOH. YOPI SOPIAN

L

22

NURYA SAEFUL AZIS

L

23

RITA NURJANAH

P

24

ROSSA SRI RIYANI

P

25

SITI ISNA RAHMAWATI

P

26

SRI WAHYUNI

P

27

VINNY SITI FAJARWATI

P

28

YANI DEVITASARI

P

29

YOGA ADITYA

L

30

YUNI SARI

P

 

 

NAMA KELOMPOK     :  KELAS VI B

ANGGOTA

NO

NAMA

L/P

DAFTAR HADIR

1

AI PINARIA

P

2

AMBI VIRINALDY

L

3

ANISA B

P

4

ANISA FAUZIAH

P

5

CHAIRIN NAJIB

L

6

DEDE AGIT SOFIANA

L

7

DENI MUHAMMAD RAMDANI

L

8

DEWI PITRI INTAN

P

9

GILANG NUGRAHA

L

10

IKBAL SAEFUL SIHAB

L

11

LENA NURHAYATI

P

12

MELIN RISTIANI

P

13

NOVI TAREZA

P

14

NURUL AZIZAH

P

15

PINA FITRIANI

P

16

REMA WIJI ASTUTI

P

17

RESHA RESTIA

P

18

RESTI ALFIAH KHAIRUNISA

P

19

RIFA SITI RAHAYU

P

20

RIFAN NURJAMAN

L

21

RIKI SAHDAN

L

22

SATRIA PRADANA

L

23

SIDDIQ ISMAIL

L

24

SINTA PURWATI

P

25

SITI DEWI YULIANI

P

26

SITI NUR ANISA

P

27

SITI RIANA HAQIQI

P

28

SONIA SINTIA LESTARI

P

29

SRI MEISA INDRIANI

P

30

TIA SUTIA

P

31

UJANG MUHAMMAD

L

32

VIKA SITI NOVIANTI

P

33

WALIYADIN

L

34

YOGI ANUGRAH PRATAMA

L

35

YULIANTI

P

36

YUNAN

L

 

GURU PEMBIMBING

No.

Nama

NIP

Jabatan

Kepanitiaan

1

Amas Masdar, S.Ag 19611210 198303 1 009

Kepala

Ketua Rombongan

2

Pian Supian, S.Pd.I 19591005 198903 1 004

Guru

Pembimbing

3

Ulumudin, S.Ag 19721120 199803 1 003

Guru

Pembimbing

4

Yayi, S.Ag 19660112 199803 1 005

Guru

Pembimbing

5

Sumarna, S.Pd.I 19690124 200003 1 001

Guru

Pembimbing

6

Dedi Mulyana, S.Pd 19740119 200501 1 001

Guru

Pembimbing

7

D. Samsul Hidayat, S.Ag 19660213 200701 1 022

Guru

Pembimbing

8

M. Yayat Ruhiyat, S.Pd.I 19781220 200710 1 001

Guru

Pembimbing

9

Dedi Kusnadi, A.Ma 19740707 200710 1 003

Guru

Pembimbing

10

Ipin Zaenal Aripin 19720710 200501 1 003

TU

Sekertaris

11

Somadin Sobar, A.Ma 19690505 200701 1 002

Guru

Pembimbing

12

Hilman Pirmansah 19811104 200710 1 001

TU

Pembimbing

13

Taufik Nuari, S.Pd.I  

Guru

Pembimbing

14

Riki Hermawan  

Pustakawan

Pembimbing

 


 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas izin‐Nya sehingga penyusunan laporan KUNJUNGAN INDUSTRI ini dapat terwujud. Laporan KUNJUNGAN INDUSTRI ini dimaksudkan sebagai bentuk pertanggung‐jawaban kepada publik. Disamping itu laporan ini juga sebagai bahan dokumentasi yang harapannya dapat bermanfaat dalam proses pembelajaran ke depan.

 

Ucapan terima kasih ke para pihak yang telah membantu pelaksanaan KUNJUNGAN INDUSTRI ini baik dari sisi perencanaan sampai evaluasi maupun dukungan dalam bentuk finansial, asistensi dan sharing informasi. Kepada pihak pembimbing kami ucapkan terima kasih. Kepada siswa MIN Suci Kaler tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih.

 

Akhirnya, kami menyadari bahwa Laporan KUNJUNGAN INDUSTRI  ini masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu, segala kritik dan saran untuk perbaikannya sangat diharapkan dan sebelumnya kami tak lupa mengucapkan terima kasih. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi

 

kita semua, untuk mendukung terciptanya prinsip transparansi dan akuntabilitas di lingkungan sekolah dan di luar sekolah / masyarakat.

 

 

 

 

Garut, 29 Nopember 2011

Panitia

 

 


DAFTAR ISI


 

 

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………….………..   1

DAFTAR NAMA KELOMPOK …………………………………………………………….   2

GURU PEMBIMBING ………………………………………………………………………  4

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………….   5

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………  6

BAB I OBSERVATORIUM BOSSCHA ………..…………………………………………..  7

  1. PENDAHULUAN ………………………………………………….………………..  7
  2. HASIL PENGAMATAN ……………………………………………………………   8

BAB II PENUTUP …………………………………………………………………………. 35

  1. KESIMPULAN ……………………………………………………………………..  35
  2. KESAN ………………………………………………………………………………  40

 

 


 

 

BAB I

OBSERVATORIUM  BOSSCHA

 

A. PENDAHULUAN

  1. a.    Latar Belakang

Program Kunjungan Industri (KI) merupakan suatu kegiatan untuk memberi gambaran kepada siswa bagaimanakah dunia industri di luar sekolah. Kegitan ini dilaksanakan oleh siswa MIN Suci kaler kelas VI a dan VI b di Observatorium Bosscha  Lembang Bandung.

 

  1. b.    Tujuan

Untuk mengetahui situasi secara nyata dalam pengolahan Observatorium dan untuk menambah wawasan / pengetahuan yang dapat dijadikan pengalaman serta bekal di masa yang akan datang .

 

  1. c.     Manfaat

Agar siswa dapat mengetahui bagaimana Observatorium Bosscha itu.

 

  1. d.    Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Program ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 29 Nopember 2011  di                       Observatorium Bosscha Lembang Bandung.

 

  1. e.     Sasaran

Kegiatan ini ditujukan bagi siswa MIN Suci Kaler Kelas VI Tahun Pelajaran 2011/2012.

 

 

 

 

A. HASIL PENGAMATAN

Tentang Bosscha

Observatorium Bosscha merupakan satu – satunya tempat pengamatan bintang di Indonesia. Sebagai negara yang memiliki tiga zona waktu, akan lebih baik jika Indonesia memiliki tiga buah Observatorium.

Observatorium Bosscha Sendiri memiliki sejarah yang panjang hingga sekarang dan masih terus melakukan aktifitas penelitiannya.

 

Profil Bosscha

Observatorium Bosscha adalah sebuah Lembaga Penelitian dengan program-program spesifik. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, obervatorium ini merupakan pusat penelitian dan pengembangan ilmu astronomi di Indonesia. Sebagai bagian dari  Fakultas MIPA – ITB, Observatorium Bosscha memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan pascasarjana di ITB, khususnya bagi Program Studi Astronomi, FMIPA – ITB. Penelitian yang bersifat multidisiplin juga dilakukan di lembaga ini, misalnya di bidang optika, teknik instrumentasi dan kontrol, pengolahan data digital, dan lain-lain. Berdiri tahun 1923, Observatorium Bosscha bukan hanya observatorium tertua di Indonesia, tapi juga masih satu-satunya obervatorium besar di Indonesia.

Observatorium Bosscha adalah lembaga penelitian astronomi moderen yang pertama di Indonesia. Observatorium ini dikelola oleh Institut Teknologi Bandung dan mengemban tugas sebagai fasilitator dari penelitian dan pengembangan astronomi di Indonesia, mendukung pendidikan sarjana dan pascasarjana astronomi di ITB, serta memiliki kegiatan pengabdian pada masyarakat.

Observatorium Bosscha juga mempunyai peran yang unik sebagai satu-satunya observatorium besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai sejauh ini. Peran ini diterima dengan penuh tanggung-jawab: sebagai penegak ilmu astronomi di Indonesia.

Dalam program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objek-objek langit, masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya. Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains. Dalam terminologi ekonomi modern, Observatorium Bosscha berperan sebagai public good.

Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.

Observatorium Bosscha berperan sebagai homebase bagi penelitian astronomi di Indonesia.

 

Sejarah Bosscha

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

 

Direktur Observatorium

  1. 1923 – 1940: Dr. Joan Voûte
  2. 1940 – 1942: Dr. Aernout de Sitter
  3. 1942 – 1946: Prof. Dr. Masashi Miyaji
  4. 1946 – 1949: Prof. Dr. J. Hins
  5. 1949 – 1958: Prof. Dr. Gale Bruno van Albada
  6. 1958 – 1959: Prof. Dr. O. P. Hok dan Santoso Nitisastro (pejabat sementara)
  7. 1959 – 1968: Prof. Dr. The Pik Sin
  8. 1968 – 1999: Prof. Dr. Bambang Hidayat
  9. 1999 – 2004: Dr. Moedji Raharto
  10. 2004 – 2006: Dr. Dhani Herdiwijaya
  11. 2006 – 2010: Dr. Taufiq Hidayat
  12. 2010 – sekarang: Dr. Hakim Luthfi Malasan

Kendala yang Dihadapi Sekarang

Perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh laju pesat membuat aktivitas pengamatan bintang terganggu. Cahaya dari kawasan pemukiman yang terhambur ke angkasa membuat langit menjadi lebih terang. Semakin lama, cahaya bintang yang redup semakin kalah oleh cahaya lampu. Sehingga observatorium yang pernah disebut-sebut sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya.

 

 

 

FASILITAS

TELESKOP YANG BEROPERASI

Refraktor Ganda Zeiss 60 cm

Spesifikasi

Nama Teleskop : Zeiss
Diameter lensa : 60 cm
Panjang Fokus : 1080 cm
Fokus Rasio : f/18
Skala bayangan : 18,4″/mm

 

 

 

 

 

Teleskop ganda Zeiss 60 cm ini berada pada satu-satunya gedung kubah di Observatorium Bosscha yang telah menjadi landmark Bandung utara selama lebih dari 85 tahun. Bangunan teropong ini dirancang oleh arsitek Bandung ternama, yaitu K. C. P. Wolf Schoemacher, yang juga guru Presiden Soekarno. Teleskop dan gedung kubah ini merupakan sumbangan dari K. A. R. Bosscha yang secara resmi diserahkan kepada Perhimpunan Astronomi Hindia-Belanda pada bulan Juni 1928. Kubah gedung memiliki bobot 56 ton dengan diameter 14,5 m dan terbuat dari baja setebal 2 mm.

Saat ini, Teropong Ganda Zeiss 60cm ini merupakan teleskop terbesar dan tertua di Observatorium Bosscha. Tahun 2008, teleskop ini genap berusia 80 tahun. Sampai sejauh ini, teleskop ini masih berfungsi dengan baik berkat perawatan yang konsisten. Sistem detektor fotografi pernah digunakan di teleskop ini sampai dengan tahun 1980-an. Sejak awal 1990-an, teknologi detektor dijital (menggunakan CCD astronomi) mulai digunakan di Observatorium Bosscha, untuk meningkatkan tingkat sensitifitas pengamatan. Selain itu, instrumentasi teleskop juga terus dimodernisasi.

Teleskop ini merupakan jenis refraktor (menggunakan lensa) dan terdiri dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder). Diameter teleskop utama adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, dan teleskop pencari berdiameter 40 cm. Medan pandang teleskop pencari adalah 1,5 derajat atau sekitar 3 kali diameter citra bulan purnama. Medan pandang langit yang luas ini memudahkan untuk mengidentifikasi bintang yang hendak diamati, dibandingkan dengan citra bintang di langit melalui peta bintang. Teleskop ini dapat mengamati bintang-bintang yang jauh lebih lemah, kurang lebih 100000 kali lebih lemah dari bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang.

Instrumen utama ini telah digunakan untuk berbagai penelitian astronomi, antara lain untuk pengamatan astrometri, yaitu untuk memperoleh informasi posisi benda langit secara akurat dalam orde sepersepuluh detik busur, khususnya untuk memperoleh orbit bintang ganda visual. Hingga saat ini terdapat koleksi sekitar 10000 data pengamatan bintang ganda visual yang diperoleh dengan menggunakan teleskop ini. Selain itu, teleskop ini juga digunakan untuk pengamatan gerak diri bintang dalam gugus bintang. Teleskop ini juga digunakan untuk pengukuran paralak bintang guna penentuan jarak bintang. Pencitraan dengan CCD juga digunakan untuk mengamati komet dan planet-planet, misalnya Mars, Jupiter, dan Saturnus. Dengan menggunakan spektrograf BCS (Bosscha Compact Spectrograph), teleskop ini secara kontinu melakukan pengamatan spektrum bintang-bintang Be.

 

 

 Refraktor Bamberg 37 cm

Spesifikasi

Nama Teleskop : Bamberg
Diameter lensa : 37 cm
Panjang Fokus : 700 cm
Fokus Rasio : f/18,9
Alat Tambahan : filter matahari

 

 

Teropong Bamberg juga termasuk jenis refraktor yang ada di Observatorium Bosscha, dengan diameter lensa 37 cm dan panjang fokus 7 m. Teropong ini berada pada sebuah gedung beratap setengah silinder dengan atap geser yang dapat bergerak maju-mundur untuk membuka atau menutup. Karena konstruksi bangunan, jangkauan teleskop ini hanya terbatas untuk pengamatan benda langit dengan jarak zenit 60 derajat, atau untuk benda langit yang lebih tinggi dari 30 derajat dan azimut dalam sektor Timur-Selatan-Barat. Untuk obyek langit yang berada di langit utara atau azimut sektor Timur-Utara-Barat praktis tak dapat dijangkau oleh teleskop ini. Teleskop ini selesai diinstalasi awal tahun 1929 dan digerakkan dengan sistem bandul gravitasi, yang secara otomatis mengatur kecepatan teleskop bergerak ke arah barat mengikuti bintang yang ada di medan teleskop sesuai dengan kecepatan rotasi bumi. Teleskop ini juga telah dilengkapi dengan detektor moderen, menggunakan kamera CCD.

Teropong Bamberg digunakan untuk pengamatan kurva cahaya bintang-bintang variabel, serta fotometri gerhana bintang, misalnya pengamatan kurva cahaya bintang ganda delta-Capricorni. Teropong ini juga digunakan untuk pengamatan matahari dan permukaan bulan. Teropong Bamberg juga sering digunakan untuk pendidikan publik, misalnya pada Malam Umum, untuk melihat kawah bulan, bintang ganda visual, gugus bintang, planet-planet, dan benda langit lainnya secara langsung melalui okuler teropong.

 

 

Reflektor GAO-ITB

Spesifikasi

Nama Teleskop : GAO-ITB-RTS
Diameter cermin : 20 cm
Panjang Fokus : 200 cm
Fokus Rasio : f/10

 

Reflektor GAO-ITB merupakan teleskop generasi baru di Observatorium Bosscha yang diinstalasi tahun 2005 dan sepenuhnya digerakkan dengan kontrol komputer. Teleskop ini berjenis Schmidt-Cassegrain bermerek Celestron dengan diameter cermin 8 inchi (sekitar 20 cm). Teleskop ini berada dalam ruangan dengan atap geser.

Menilik namanya, teleskop ini merupakan hasil kerjasama antara ITB dengan Gunma Astronomical Observatory (GAO), Jepang, dan telah beberapa kali digunakan sebagai teleskop robotik, yaitu pengamatan dari dua tempat jauh (Lembang-Gunma). Teleskop ini dapat digerakkan dari Jepang, dan hasilnya disaksikan secara langsung oleh pengamat di Jepang, yang sebagian besar adalah pengunjung umum atau siswa dan guru. Dan demikian pula sebaliknya. Teleskop di Gunma digerakkan dari Bosscha dan hasilnya disaksikan di Lembang, atau di kampus ITB, didukung oleh fasilitas teleconference. Karena itu, nama lengkap teleskop ini sebenarnya adalah GAO-ITB-RTS (dengan RTS = Remote Telescope System).

 

Teleskop Hilal

Teleskop Hilal yang dimaksudkan di sini adalah teleskop kecil yang biasa digunakan untuk pengiriman tim pengamat ke beberapa daerah di Indonesia untuk mengamati hilal 1 Ramadhan dan 1 Syawal setiap tahunnya. Teleskop tersebut adalah refraktor William Optics dengan diameter 6 cm dilengkapi dengan mounting Vixen Sphinx dan sebuah detektor sederhana berupa kamera dijita Canon Powershot. Dilengkapi dengan TV Tuner ke sebuah laptop atau desktop, maka sistem ini siap mengirimkan data berupa video tayang-langsung.

Refraktor WO 6 cm

Mounting Vixen Sphinx

Detektor kamera dijital

Terdapat 6 teleskop seperti ini di Observatorium Bosscha dan siap membantu pemerintah untuk melakukan pengamatan hilal pada tanggal-tanggal penting keagamaan tersebut

 

 

 

Teleskop Radio 2.3m

Saat ini Observatorium Bosscha telah memasuki era multiwavelength. Gelombang radio mulai dapat ditangkap dan dianalisis di Observatorium Bosscha.

Teleskop radio Bosscha 2.3m adalah adalah instrumen radio jenis SRT (Small Radio Telescope) yang didesain oleh Observatorium MIT-Haystack dan dibuat oleh Cassi Corporation. Teleskop ini bekerja pada panjang gelombang 21 cm atau dalam rentang frekuensi 1400-1440 MHz. Dalam rentang frekluensi tersebut terdapat transisi garis hidrogen netral, sehingga teleskop ini sangat sesuai untuk pengamatan hidrogen netral, misalnya dalam galaksi kita, Bima Sakti. Selain itu, teleskop ini dapat digunakan untuk mengamati obyek-obyek jauh seperti ekstragalaksi dan kuasar. Matahari juga merupakan obyek yang menarik untuk ditelaah dalam panjang gelombang radio ini. Obyek eksotik, seperti pulsar, juga akan menjadi taget pengamatan dengan teleskop radio ini.

Teleskop Radio 2,3 m di Observatorium Bosscha

Teleskop ini dapat digunakan untuk pengamatan dalam mode spektral dengan resolusi 7,8 kHz untuk bandwidth 1,2 MHz, atau dengan resolusi sangat tinggi 1,8 kHz namun dengan bandwidth yang jauh lebih pendek. Mapping juga dapat dilakukan, namun dengan resolusi  beam hanya sekitar 7 derajat. Pengamatan dalam mode kontinum memberikan bandwidth selebar 40 MHz dengan bin sebesar 1 MHz. Teleskop ini diinstalasi pada puncak bekas menara meteorologi di Observatorium Bosscha untuk mendapatkan coverage langit yang maksimal (tanpa terhalang pepohonan). Ruang kontrol dibuat di bawahnya.

Teleskop ini, yang mendapatkan first light pada bulan Desember 2008, menginisiasi pengembangan astronomi radio di Indonesia dan akan terus dikembangkan menjadi interferometer radio multi-elemen.

 

Teleskop Radio JOVE

  • Spesifikasi
Nama Teleskop : Radio Jove
Frekuensi : 20,1 MHz
Jenis Antena : Dipole
Panjang : ~ 7 meter
Alat Tambahan : Receiver
Lain – Lain : Untuk Pengamatan Solar Burst dan Jupiter

 

 

 

Teleskop radio JOVE tidak lain adalah teleskop radio hasil rancangan NASA Radio JOVE Project yang ditujukan untuk mengamati semburan radio dari Jupiter (Jupiter noise storm) serta semburan matahari Type III pada frekuensi 20,1 MHz. Teleskop ini menggunakan antena array berupa dual-dipole. Receiver dibuat bekerjasama dengan Laboratorium Telekomunikasi Radio dan Gelombang Mikro, STEI, ITB. Sebanyak dua receiver telah selesai dikerjakan. Sebuah interferometer JOVE saat ini sedang dalam tahap penyelesaian di Observatorium Bosscha.

Dengan teleskop radio ini, Observatorium Bosscha dapat turut mengikuti jaringan pengamatan semburan Jupiter dan Matahari di dunia. Khusus untuk pengamatan Matahari, teleskop ini menjadi pendamping pengamatan radio untuk pengamatan optik dari Teropong Surya di Observatorium Bosscha.

 

 

 

Teropong Surya

Observatorium Bosscha telah selesai membangun teropong matahari, yaitu set teleskop dijital, yang terdiri dari 3 buah telekop Coronado dengan 3 filter yang berbeda, serta sebuah teleskop proyeksi citra Matahari yang sepenuhnya dibuat sendiri. Fasilitas ini dapat terealisasi berkat sumbangan dari Kementerian Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan, Negeri Belanda, Leids Kerkhoven-Bosscha Fonds, Departemen Pendidikan Nasional, serta Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Fasilitas baru ini dapat digunakan untuk penelitian, pendidikan, maupun untuk pengabdian kepada masyarakat. Dari sisi layanan publik, fasilitas ini akan menjadi bagian penting dari pendidikan informal yang dapat diberikan oleh Observatorium Bosscha kepada publik. Semua ini merupakan wujud dari upaya Observatorium Bosscha memodernisasi dirinya sambil tetap menjaga sejarahnya. Fasilitas teropong surya ini berdiri pada lahan bekas teropong transit yang sudah tidak digunakan lagi, dan pernah digunakan sebagai titik pengamatan topografi. Bekas titik tersebut masih dipertahankan di dalam interior gedung teropong. Gedung ini dirancang oleh Dr. Wijaya Martokusumo dari SAPPK-ITB.

Berbagai komponen teleskop dibuat sendiri kecuali teleskop Coronado yang merupakan teleskop didesain khusus untuk keperluan pengamatan Matahari. Fasilitas ini terdiri dari dua buah sistem teleskop, yang pertama merupakan teleskop dijital bekerja pada 3 panjang gelombang, yaitu H-alpha, Kalsium II, dan cahaya putih yang ditujukan untuk mengamati bintik matahari. Teleskop kedua adalah sebuah coleostat yang ditujukan untuk membuat proyeksi citra dan spektrum matahari secara analog. Dengan demikian keduanya dapat berfungsi sebagai teleskop tayang-langsung (real-time), dan dapat dilihat melalui jaringan internet. Dengan sistem ini, fasilitas ini dapat berfungsi sebagai kolektor data ilmiah maupun sebagai sarana pendidikan publik  yang cukup efektif. Variasi kenampakan matahari dapat dimonitor dan publik diharapkan dapat mengesani fenomena cuaca antariksa.

Fasilitas Teropong Surya ini juga dilengkapi dengan poster-poster berisi informasi tentang matahari serta  perangkat lunak World Wide Telescope yang disumbangkan oleh Microsoft Indonesia kepada Observatorium Bosscha.

 

 

Teleskop Pelatihan

Sejak tahun 2003, Observatorium Bosscha merupakan sentra pelatihan Tim Olimpiade Astronomi Indonesia di tingkat internasional. Sejak saat itu pula, tim yang dibina oleh para staf Program Studi dan KK Astronomi ITB ini selalu berprestasi. Secara berkala anggota tim yang dipilih melalui seleksi di Olimpiade Sains Nasional setiap tahunnya dilatih di Observatorium Bosscha. Peralatan yang digunakan adalah set teleskop portable yang disediakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Teleskop ini juga digunakan untuk lomba observasi di Olimpiade Sains Nasional, terdiri dari Celestron C8 dan C11 dilengkapi dengan CCD dan asesoris lainnya.

 

Teleskop-teleskop ini juga digunakan oleh mahasiswa astronomi melakukan praktikum laboratorium astronomi.

 

 

 

Refraktor Unitron

Spesifikasi

Nama Teleskop : Unitron
Diameter lensa : 102 cm
Panjang Fokus : 150 cm
Fokus Rasio : f/14,7
Alat Tambahan : filter matahari (ND)

 

Teleskop Unitron adalah teropong refraktor dengan lensa obyektif berdiameter 102 mm dan panjang fokus 1500 mm. Teropong ini diinstalasi pada mounting Zeiss yang masih asli dengan sistem penggerak bandul gravitasi, sama seperti pada teropong Bamberg. Dari segi ukuran, teropong ini baik untuk pengamatan matahari maupun bulan, dan banyak digunakan untuk praktikum mahasiswa. Dengan ukuran yang kecil dan ringan, teropong ini mudah dibawa dan telah beberapa kali digunakan dalam ekspedisi pengamatan gerhana matahari total, misalnya tahun 1983 di Cepu, Jawa Tengah, dan tahun 1995 di Sangihe Talaud, Sulawesi Utara.

Teleskop ini juga digunakan untuk publik pada acara Malam Umum, untuk mengamati bintang ganda visual, planet-planet, serta obyek-obyek yang menarik yang dapat dilihat pada saat pengamatan.

 

 

TELESKOP DALAM PERBAIKAN

Teleskop Goto 45 cm

 

Teleskop Schmidt Bima Sakti

Spesifikasi

Nama Teleskop : Schmidt Bimasakti
Diameter cermin : 71 cm
Panjang Fokus : 127 cm
Fokus Rasio :
Alat Tambahan : lensa korektor
  prisma pembias
  wedge sensitometer

 

Teleskop Bima Sakti diinstalasi pada tahun 1960 dan merupakan sumbangan dari UNESCO kepada Observatorium Bosscha. Teleskop jenis ini termasuk jarang di dunia.

Teleskop Schmidt Bima Sakti mempunyai sistem optik Schmidt sehingga sering disebut Kamera Schmidt. Teropong ini mempunyai diameter lensa koreksi 51 cm, diameter cermin 71 cm, dan panjang fokus 127 cm. Perbandingan antara panjang fokus terhadap diameter lensa koreksi atau dikenal dengan f-ratio relatif paling kecil di antara teleskop-teleskop besar di Observatorium Bosscha. Angka ini besarnya 2,5, sehingga memang mirip dengan f-ratio kamera biasa. Karena itu, teropong Bima Sakti ini juga dinamakan kamera langit cepat, sedangkan refraktor ganda Zeiss merupakan kamera yang lambat. Artinya, perlu waktu yang lebih lama untuk memotret obyek yang sama apabila menggunakan refraktor Zeiss.

Teleskop ini memiliki medan pandang yang luas, kira-kira 5 x 5 derajat persegi, sehingga teropong sangat baik untuk keperluan survey. Teropong ini digunakan untuk pengamatan obyek langit dari panjang gelombang biru sampai inframerah dekat, dan juga dilengkapi dengan prisma obyektif dan prisma Racine. Teropong ini sangat peka sehingga sangat mudah terganggu oleh polusi cahaya.

Teropong ini digunakan untuk pengamatan bintang emisi garis hidrogen, bintang-bintang kelas M, serta bintang-bintang Wolf-Rayet.

 

FASILITAS PENDUKUNG

Perpustakaan

Perpustakaan Observatorium Bosscha merupakan perpustakaan unit, salah satu yang terlengkap di ITB. Selain berlangganan cukup banyak jurnal-jurnal utama astronomi, perpustakaan ini juga memiliki koleksi buku teks, prosiding, serta ASP conference series. Berbagai katalog astronomi serta koleksi historis juga tersimpan baik di perpustakaan ini. Akses secara on-line kepada jurnal-jurnal yang dilanggan juga tersedia.

Perpustakaan Observatorium Bosscha

Ruang Baca Observatorium Bosscha

Sebagian besar koleksi perpustakaan ini tidak boleh dipinjam (atau dibawa keluar), kecuali untuk dosen dan mahasiswa astronomi. Namun demikian,  layanan dokumen yang diperlukan dapat dipenuhi dengan menghubungi petugas perpustakaan.

Bengkel Mekanik

Observatorium Bosscha juga dilengkapi dengan bengkel mekanik yang mampu membuat berbagai asesoris dan komponen teleskop. Bengkel ini memiliki mesin bubut dan mesin-mesin mekanik pendukung yang lain serta sarana pengelasan.

Mesin bubut

 

Mesin fres

Komponen teleskop dibuat di Bengkel Mekanik

 

 

Ruang Ceramah

Ruang Ceramah merupakan ruangan berkapasitas 100 orang yang saat ini terutama digunakan untuk menerima kunjungan publik. Ruang ini dilengkapi dengan sarana multimedia, sehingga selain digunakan sebagai tempat cermah astronomi populer untuk pengunjung, ruang ini juga dapat dimanfaatkan untuk pemutaran film-film/dokumentasi ilmiah. Rata-rata dalam hari kunjungan publik, ruang cermah ini memberikan layanan sampai 600 orang per hari.

Ruang Ceramah ini dibangun tahun 1934 dan sejak awal ditujukan untuk demonstrasi publik. Awalnya ruangan ini berisi alat-alat peraga ilmiah, misalnya peraga gerhana, peraga bola langit, miniatur teleskop, dan sebagainya. Sebagaimana diketahui Observatorium Bosscha telah menerima kunjungan publik sejak tahun 1926. Namun seiring dengan semakin banyaknya permintaan kunjungan, ruang ini dimodifikasi menjadi tempat penerimaan publik untuk penyampaian informasi astronomi. Dalam ruang ini terdapat patung perunggu K. A. R. Bosscha. Patung tersebut merupakan cinderamata dari Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda kepada Bosscha, yang diserahkan saat penyerahan Teropong Zeiss tahun 1928. Ketika Ruang Ceramah selesai dibangun, patung ini dipasang secara permanen di gedung ini.

Ceramah astronomi populer umumnya diberikan oleh para dosen dan mahasiswa di Program Studi Astronomi, FMIPA, ITB. Selain sebagai Ruang Ceramah umum, tempat ini juga digunakan untuk kuliah-kuliah di Program Studi Astronomi, ITB.

 

Ruang Ceramah Observatorium Bosscha

Wisma Kerkhoven

 

Wisma Kerkhoven adalah fasilitas baru di Observatorium Bosscha yang diresmikan penggunaannya oleh Menristek Dr. Kusmayanto Kadiman didampingi Rektor ITB pada tanggal 15 Desember 2007. Gedung ini dulunya adalah kediaman resmi direktur Observatorium Bosscha. Dalam sejarahnya, peletakan pertama pembangunan gedung ini dilakukan tanggal 14 Mei 1926 oleh Prof. Dr. Anton Pannekoek, seorang astronom besar Belanda, yang waktu itu sedang menjadi tamu peneliti di Observatorium Bosscha. Nama Kerkhoven yang diberikan pada gedung ini adalah untuk mengenang salah seorang pendiri Observatorium Bosscha, yaitu R. A. Kerkhoven, yang berjasa sangat besar bagi kelangsungan Observatorium Bosscha.

 

Gedung ini dipugar mulai pertengahan tahun 2007 dengan pengawasan arsitek dari SAPPK-ITB, yaitu Dr. Woerjantari Soedarsono, Dr. Wijaya Martokusumo, dan Ir. Widiyani, MT. Pemugaran gedung ini tetap menjaga keaslian bangunan, dan hanya terdapat sedikit modifikasi untuk mendukung fungsi gedung. Dengan demikian, sejak awal tahun 2008, gedung ini merupakan suatu perwujudan dari Faculty House, yang memiliki fungsi dan sarana sebagai berikut:

 

1. Sarana ruang seminar dan lokakarya

2. Sarana ruang rapat

3. Tempat penerimaan tamu VIP

4. Tempat acara bernuansa pendidikan dan kebudayaan

5. Museum

6. Guest House VIP

 

Semenjak diresmikan akhir tahun 2007 tersebut, gedung ini telah menjadi host dari berbagai kegiatan di Observatorium Bosscha.

 

 

 

Ruang Seminar dan Lokakarya

 

Sebagai ruang seminar dan lokakarya, ruang rapat utama dapat menampung 40 orang, dan sebagai ruang rapat dapat menampung sekitar 30 orang.  Observatorium Bosscha banyak dikunjungi oleh tamu-tamu penting baik dari dalam dan luar negeri, misalnya menteri-menteri, gubernur, para guru besar, dan sebagainya. Lounge Observatorium Bosscha biasanya digunakan sebagai tempat pertemuan, sedangkan untuk berdiskusi menggunakan Ruang Rapat Utama. Tamu-tamu penting dapat menginap di guest house yang menyediakan dua kamar utama dan satu kamar tambahan.

Wisma Kerkhoven tampak dari muka-samping (utara-timur)

Ruang Utama

Lounge

Ruang Makan

Museum

 

Observatorium Bosscha telah berusia lebih dari 85 tahun. Selama itu, observatorium ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Penggunaan peralatan misalnya, telah berevolusi dari sistem mekanik menjadi sistem elektronik, dan media data juga telah berubah dari mode analog menjadi dijital. Karena itu, banyak benda-benda, yang sekarang dikatakan “tua” namun sangat berarti sekaligus memberikan rekaman sejarah perjalanan Observatorium Bosscha. Ruang museum di Wisma Kerkhoven ditujukan untuk menyimpan benda-benda tua yang penting tersebut, mulai dari peralatan, dokumen, serta teropong. Namun begitu, penataan dan inventarisasi benda-benda museum belum sepenuhnya selesai. Museum ini masih bersifat terbatas dan belum dibuka untuk umum, kecuali pada acara-acara tertentu.

 

Teleskop Secretan, sebagai contoh, adalah teleskop yang berusia sangat tua, dibuat oleh pabrik Secretan, Prancis, tahun 1884. Teleskop ini adalah sumbangan dari seorang donatur asal Padang tahun 1920-an, ketika mendengar bahwa di Lembang sedang dibangun sebuah observatorium. Teleskop ini sebelumnya berada di gedung yang sekarang menampung teleskop Goto. Ketika teleskop Goto diinstalasi tahun 1989, teleskop Secretan masuk dalam masa purnabakti dan disimpan di Bengkel Observatorium Bosscha. Dengan adanya museum ini, Teleskop Secretan dibersihkan kembali dan menjadi salah satu barang koleksi museum yang sangat berharga.

Ruang Museum

Koleksi buku-buku tua

Jam penera

Mesin ukur

Mesin hitung mekanik

Sextant

 ecretan 1884

Serambi Wisma Kerkhoven

 

 


Kolokium

 

Daftar kolokium yang telah dilakukan di Observatorium Bosscha baik oleh para staff Observatorium, mahasiswa kerja praktek, maupun tamu undangan dari dalam maupun luar negeri.

Kolokium 2011

 DATE SPEECH TITLE
21 Mar Yuda Setiawan (Fisika-UNJ) Penentuan jarak dan kelas spektrum bintang pada gugus terbuka Pleiades berdasarkan spektroskopi optik
28 Mar Lazuardi Finanda (Fisika-UNJ) Penentuan Massa Bintang Berdasarkan Spektroskopi Optik
  Achmad Setio Adinugroho S.Si. M.T (CodeInDesign Co) Astronomical Calculator: Web Service and Social Network Apps for Astronomers
11 Apr Deva Octavian S.Si (Bosscha-ITB) Penentuan Fokus Teleskop Visual Refraktor  Ganda Zeiss dengan Metoda Hartmann Mask
25 Apr Alfan Nasrulloh S.Si (Bosscha-ITB) Evaluasi Website Observatorium Bosscha
23 Mei Dr. Irwan Meilano ST., M.Sc
(Geodesi FITB – ITB)
Analisis Laju-Geser Sesar Lembang Berdasarkan Pengamatan GPS
30 Mei Dr. Andrea Richichi
(NARIT – Thailand)
Optical Astronomy in Thailand and Research Opportunities
13 Jun Dr. Hakim L. Malasan
Evan I. Akbar S.Si
(Bosscha ITB)
You Are Galileo Project: Memperkenalkan Perakitan Teleskop dan Observasi Astronomi kepada Guru-guru Tingkat Menengah
18 Jul Lala M. K. Wijayanti (Fisika – UPI) Penentuan Konstanta Hartmann pada Teleskop refraktor Zeiss
18 Jul Fachruddin Azzahidi (Fisika – UPI) Pengukuran Kecerlangan Langit Bosscha Menggunakan Teleskop Portable dan CCD
08 Aug Asep Rosana (Bosscha – ITB) Pemasangan Sirius Dome di SMK Lokon, Manado
08 Aug Alfan Nasrulloh S.Si (Bosscha – ITB) Project Management Office and Approach Possibility to the Bosscha Observatory
22 Aug Janette Suherli S.Si (AS-ITB) Doi Inthanon Atmospheric Parameter Project: Kerja Sama Astronomi ITB dengan NARIT Thailand

 

Kolokium 2010

 DATE SPEECH TITLE
01 Feb Muhammad Andi Yudha (TF-ITS) Image restoration of binary star using Blind Deconvolution Seddara method on Optics 7 Adaptive System at Bosscha Observatory
08 Mar Indri Ayu Lestari (AS-ITB) Black hole: Indonesian eduastro online
Putri Siti Rahma (Fisika-UPI) Open Cluster Photometry
5 Apr Andreas Liudi Mulyo (TF-ITS) Identification of intrinsic spectrum of single star using line scatter of Deep Space Spectrograph-7 at Bosscha Observatory
Wulanita Kuswotanti (SITH-ITB) Study of bird community at Bosscha Observatory – West Java
10 Mei Evan Irawan Akbar (Bosscha-ITB) Use of Single Chip CCD as New Detector on Bima Sakti and Digitisation of Schmidt’s Plates
Zanzabila Avia Mexida: (AS-ITB) Observation and Image Processing of Solar Telescope Data
14 Jun Ahmad Ridwan (Fisika-UPI) The estimation of twlight sky brightness to get the hilal visibility
Muhammad Yusuf (AS-ITB) Bosscha Computer Cluster and Gadget
28 Jun Dr. Karel A van der Hucht (SRON-Utrecht): Hazardous Near Earth Asteroids: A Clear and Present Danger
12 Jul Alfan Nasrulloh (AS-ITB) Monitoring of sun activity using JOVE radio telescope
Rufaida Abudan (AS-ITB) Development of radio telescope research team at Bosscha Observatory
11 Okt Dhani Herdiwijaya (AS-ITB) The prospect of young crescent observation
11 Des Bosscha User meeting

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENUTUP

 

Tahun 2004, melalui  Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.51/OT.0071/MKP/2004, Observatorium Bosscha, sebagai suatu tempat yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi, dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Observatorium Bosscha berperan sebagai homebase bagi penelitian astronomi di Indonesia.

 

Pembelajaran di dunia kerja adalah suatu strategi yang memberi peluang peserta
mengalami proses belajar melalui bekerja langsung pada pekerjaan
sesungguhnya ( Learning by doing ).Dengan adanya KUNJUNGANINDUSTRI INI siswa dapat melihat bagaimana pelaksanaan produksi langsung di industri. Akhirnya kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa kami telah menyelesaikan LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI ini.

 

  1. A.  KESIMPULAN

 

Di dalam relung-relung kedalaman luas alam semesta, beberapa pernik-pernik mikro debu dan gas saling berinteraksi melalui gaya gravitasi satu dengan yang lain. Dinamika ini menyebabkan tarikan debu-debu mikro lainnya yang akhirnya melahirkan sistem dengan struktur kompleks.

Proses evolusi itu berkesinambungan selama berpuluh juta bahkan bermiliar tahun, untuk melahirkan obyek-obyek langit yang eksotik seperti sebuah planet, bintang atau galaksi. Suatu kala dengan langkah hidup yang jauh di luar jangkauan pencapaian ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Tersurat bahwa dalam alam makro kosmos rentang waktu dan ukuran spasial (berhubungan dengan ruang) belumlah diketahui tepian fisisnya. Wajarlah kemudian terbetik pertanyaan mungkinkah ilmu pengetahuan manusia yang masih seumur kecambah dapat merambah desain akbar alam semesta ini?

Sebagai gambaran adalah jarak Bumi-Matahari dalam satuan kecepatan cahaya 300.000 km per detik ditempuh dalam waktu hanya sekitar 8 menit. Waktu yang setara dengan 150 juta km. Sedangkan jarak menuju galaksi terdekat, yaitu galaksi Andromeda sebesar 3 juta tahun cahaya. Denyutan orde menit tidaklah berarti dengan orde juta tahun. Skala jagat raya membuat sistem tata surya ibarat debu yang terabaikan. Bahkan kerusakan yang diperbuat manusia terhadap lingkungan hidupnya sendiri di Bumi, sama sekali tidak menimbulkan perturbasi (gangguan) sedikitpun terhadap fenomena fisis alam dan roda-roda evolusinya. Apakah hasil-hasil analisis observasi astrofisika manusia tiga abad terakhir dapat memahami mekanisme ataupun proses-proses fisika kimia yang mempunyai sidik jari universal untuk dapat dipakai merekonstruksi desain alam ini? Akankah manusia dapat menjawab nalurinya sendiri tentang asal-usul jagat tampak ini?

Informasi dan Teknologi

Ilmu pengetahuan bidang astronomi mempelajari, memahami dan memprediksi fenomena ataupun proses fisis dan kimia yang terjadi dalam alam semesta. Isi alam semesta tidak lain berupa partikel-partikel elementer sampai dalam bentukan nebula, planet, bintang, galaksi, dll. Informasi dari obyek langit dibawa kurir dari segenap penghuni di tepian penjuru alam semesta. Salah satu kurir informasi bernama foton ini diterima untuk kemudian diubah dalam bentuk sinyal-sinyal (analog atau dijital) oleh pengamat di bumi. Model-model fisis selanjutnya direkonstruksi dan prediksi berbasis integrasi data observasi terkini dikemukakan oleh para astrofisikawan. Observasi terus dilakukan untuk validasi dan pengembangan model dan teori yang ada. Demikianlah siklus ilmu pengetahuan tentang astrofisika. Selain peran pentingnya dalam ilmu pengetahuan fundamental, astronomi juga merupakan jembatan pembelajaran multi disiplin. Tidak hanya astronomi berinterseksi dengan fisika partikel untuk permasalahan keadaan dini alam semesta dan tahap lanjut evolusi interior benda-benda langit, tetapi juga memiliki kaitan yang erat dengan kimia, biologi, geologi, cuaca dan iklim kebumian, sampai pengembangan teknologi lanjut.

Mempelajari alam semesta adalah cermin dari sebuah naluri mencari asal-usul Bumi tempat berpijak dan beranak pinak, serta untuk mengetahui posisi kita dalam ketiadaan tepi kosmik. Hal ini secara sistematik menjadi titian untuk ekspresi jati diri tentang keindahan dan pencarian keluasan arti kebenaran. Secara sosial, informasi alam semesta ini juga membantu mentransformasikan tata nilai masyarakat dari berbudaya takhayul/irasional, untuk bersikap kritis terhadap astrologi atau pengetahuan maya, dan bersikap lebih rasional.

Sebuah observasi astrofisika merupakan strategi yang terencana rapi untuk mengumpulkan informasi, mengukur variabel dan parameter fisis yang didapatnya dan menganalisis untuk hasil yang sesuai dengan acuan-acuan dasar keilmuan. Data observasi tidaklah dibuang, akan tetapi disimpan untuk telaah lanjut di kemudian hari atau untuk bekal generasi mendatang. Informasi atau lebih tepat dikatakan energi yang berasal dari obyek langit dibawa oleh kurir berupa gelombang elektromagnetik atau gelombang lain. Dalam perjalanan menempuh ruang dan waktu alam semesta, informasi dapat termodifikasi. Bentuk energi terakhir inilah yang kita amati untuk memberikan gambaran alam semesta. Informasi yang datang mempunyai spektrum energi yang sangat lebar. Tidaklah mungkin kita melakukan observasi untuk menangkap informasi secara simultan.

Perkembangan ilmu pengetahuan astrofisika sangatlah bergantung kepada bagaimana penerapan teknologi lanjut yang sesuai. Penyerapan, adaptasi dan transformasi teknologi akan mengubah cara analisis data untuk memperoleh kesimpulan ataupun tantangan baru. Pengetahuan dan teknologi instrumentasi dan detektor yang dipergunakan menangkap informasi berkembang pesat menjadi bidang kajian baru, demikian pula teknik analisis citra. Sehingga tidaklah heran bahwa ilmu pengetahuan astrofisika berkaitan erat dengan perkembangan teknologi bidang displin ilmu lain, seperti mekanik, elektronika, komputasi, dll. Limitasi teknologi berkorelasi langsung dengan ungkapan pemahaman fenomena fisis yang dapat dilakukan.

Dalam lingkup keingintahuan memperoleh informasi astrofisika jagat raya yang lebih besar, pemilihan strategi adaptasi teknologi dan biaya yang harus ditanggung harus diperhitungkan dengan matang. Di sinilah terlihat peran nilai-nilai universal ilmu pengetahuan, sehingga mensinergikan banyak negara dalam sebuah konsorsium. Perlu diingat pula bahwa setiap pengamat menerapkan teknik observasi berarti pula telah dilakukan filter terhadap informasi yang datang. Walaupun demikian informasi astrofisika mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sekaligus mempunyai potensi ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi lanjut. Semuanya membawa peradaban manusia yang lebih terbuka wawasan keilmuannya.

Observatorium Bosscha dan Pendidikan Formal

Observatorium Bosscha, seperti umumnya observatorium lain di dunia, adalah suatu organisasi dengan ciri-ciri spesifik yang bernuansa internasional. Kaidah-kaidah ilmiah acuan global terpadu dengan nilai-nilai historis dan lingkungan telah mendasari nafas kehidupan Observatorium Bosscha. Detak-detak jantung kebenaran nilai-nilai ilmu pengetahuan itu harus dilestarikan dan perlu dikelola secara terarah, integratif dan profesional. Secara operasional administratif, observatorium ini berada di bawah pengelolaan Departemen Astronomi, FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), ITB.

alam usianya yang sudah mencapai 80 tahun, fungsi utama sebuah observatorium masih tetap dipertahankan sebagai laboratorium penelitian. Dukungan lingkungan hidup yang asri akan memberikan hasil-hasil penelitian yang dapat diterjemahkan menjadi informasi yang sangat bermanfaat bagi pendidikan masyarakat luas. Sebagai pusat penelitian dan pengembangan basic space science, salah satu misinya adalah mencerdaskan kehidupan dan pendidikan bangsa. Pencarian kebenaran ilmu pengetahuan merupakan naluri dan kebutuhan umat manusia, oleh karena itu Observatorium Bosscha terbuka bagi pendidik dan anak didik untuk memperoleh informasi alam semesta. Ilmu pengetahuan tidak layak dijejalkan dalam porsi kurikulum yang masif. Demikian pula anak didik tidak bisa dicetak menjadi peraih hadiah Nobel untuk misal 10 tahun ke depan, tanpa dibarengi dengan pembangunan sistematis sumber daya manusia dan infrastruktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Budaya sesuai kaidah ilmu pengetahuan yang logis, kritis dan terbuka selayaknya dimulai dari lingkungan mikro, yaitu keluarga untuk selanjutnya watak dan perilaku dengan ciri tersebut akan membentuk peradaban baru.

Untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia bidang basic space science yang profesional, maka perlu diadakan pendidikan tinggi. Pendidikan setingkat S1 telah ada di bumi Indonesia hampir bersamaan dengan berdirinya lembaga yang kini bernama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung, lebih dari setengah abad yang lalu. Hal ini juga sangat terkait dengan keberadaan Observatorium Bosscha (berdiri 1 Januari 1920), yang sampai saat ini masih merupakan satu-satunya observatorium besar di kawasan Asia Tenggara. Demikian pula, perwujudan pendidikan tinggi astronomi menjadi Departemen Astronomi, ITB, juga masih merupakan satu-satunya lembaga yang melakukan pendidikan astronomi di Indonesia.

Dewasa ini, Departemen Astronomi juga telah mengembangkan pendidikan di tingkat Magister, yang menerima lulusan sarjana dari berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Calon sarjana dipersiapkan memiliki dasar pengetahuan sains yang kokoh, memiliki wawasan progresif serta adaptif terhadap bidang-bidang terapan yang terkait, serta tanggap terhadap perkembangan sains dan teknologi. Pengalaman menunjukkan bahwa para sarjana astronomi tidak saja siap melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi, baik di bidang astronomi maupun bidang-bidang terkait, tetapi juga cepat beradaptasi di dunia kerja, apapun bidang pekerjaan tersebut, dengan prestasi yang baik. Hal ini karena proses pendidikan diupayakan untuk membentuk pola berfikir mahasiswa serta metodologi bekerja secara terstruktur, progresif, adaptif dan bertanggung-jawab.

Di garis depan, astronomi berkembang karena penelitian dari ilmu itu sendiri, serta interaksinya dengan berbagai elemen yang membangun astronomi sebagai disiplin ilmu maupun peran sertanya dalam peradaban dan kebudayaan umat manusia yang semakin lama semakin mendunia. Pendidikan ini harus mampu membangkitkan partisipasi yang aktif. Kecenderungan perkembangan pendidikan dan penelitian astronomi di dunia internasional merupakan rujukan utama dari penyelenggaraan pendidikan ini. Yang dimaksud pendidikan di sini adalah di semua jenjang, dari sekolah dasar sampai program doktoral, maupun pendidikan di luar bangku sekolah.

Di negara-negara yang telah ‘mapan’, banyak terdapat asosiasi astronomi dan pemerintah daerah yang peduli terhadap perkembangan/kemajuan pendidikan astronomi, termasuk mencegah meluasnya polusi cahaya. Berbagai lembaga ilmu pengetahuan (termasuk PBB) juga berkontribusi penting dengan membentuk komisi-komisi khusus yang bertugas merancang pendidikan astronomi untuk pengembangan ilmunya sendiri maupun dalam kaitannya dengan bidang-bidang lain. Peserta didik yang kelak mengikuti proses pendidikan ini diharapkan tidak saja menyinari pendidikan dan penelitian astronomi, dan bidang-bidang terkait, tetapi juga pendidikan astronomi di tingkat sekolah dasar dan menengah. Pada akhirnya, tingkat apresiasi masyarakat terhadap sains akan semakin meningkat.

Obervatorium Bosscha mempunyai peran sebagai cagar ilmu pengetahuan dan cagar budaya dengan fungsi untuk membuka tabir desain akbar alam semesta yang masih jauh untuk diketahui. Demikian pula ilmu pengetahuan dan teknologi masih terlampau dini untuk menjangkau tepiannya. Suatu kesalahan fatal jika kita sudah merasa telah mengetahui banyak hal dengan tingkatan ilmu dan teknologi sekarang, padahal masih banyak ketidakjelasan yang ditemui. Sisi lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan keagamaan sebagai pedoman pengembangan lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus teman seiring jalan menembus relung kedalaman alam semesta.

Di balik itu semua tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap dahaga informasi dan pendidikan basic space science masih sangat tinggi, sehingga diperlukan dukungan dari semua pihak untuk bersama-sama memberikan layanan informasi terbaik. Apresiasi itu adalah tanggung-jawab untuk lebih meningkatkan layanan dalam pemenuhan naluri dan kebutuhan akan kebenaran ilmu pengetahuan. Manifestasi dari integrasi agama, ilmu pengetahuan dan teknologi akan memperbaharui peradaban yang sesuai dengan fitrah dan naluri manusia untuk menegakkan tonggak-tonggak kebenaran.

 

 

 


  1. B.     KESAN

Meneropong Angkasa Luar di Observatorium Bosscha

 

Teropong Zeiss di Observatorium Bosscha (foto: hilman Pirmansah)

Teropong Zeiss di Observatorium Bosscha menjadi simbol kebanggaan Indonesia di bidang astronomi. Tiap harinya, teropong paling besar se-Asia Tenggara ini dikunjungi tidak kurang dari 600 pelajar dan mahasiswa. Para pengunjung ada yang benar-benar tertarik ilmu astronomi, tetapi tidak jarang juga yang hanya berfoto di depan bangunan termashur itu.

Seperti pada pada Selasa 29 November 2011, ratusan pelajar sudah menyerbu Bosscha sejak pagi hingga siang menjelang sore.Teropong Zeiss memang menjadi pusat perhatian karena berada di dalam bangunan megah berbentuk kubah.

Dari luar, kubah Teropong Zeiss yang berwarna putih itu memang tampak agung berdiri rumput hijau yang terawat dan di antara pohon-pohon cemara dan pinus yang teduh.

Banyak anak-anak yang ditemani guru sebagai pemandu sengaja berfoto dengan background Teropong Zeiss.\

Kami membawa 66 anak-anak kelas 6 MIN Suci Kaler dari Garut untuk mengunjungi observatorium yang didirikan 1923 itu.

Sebagai pembimbing yang memfasilitasi madrasah untuk melakukan kunjugan industri, kami menempatkan Bosscha dalam daftar.

Di tahun 2011 ini melaksanakan kunjungan ke Bosscha. Dengan pertimbangan , memasukkan Bosscha ke dalam daftar kunjungan karena . “Sebagai heritage Kota Bandung, Bosscha menjadi primadona bagi sekolah,”

Alasan dari pihak madrasah, Bosscha layak dikunjungi karena menyimpan pengetahuan khususnya tentang astronomi dan sejarah. Nama Observatorium Bosscha juga sudah tercetak di buku mata pelajaran di sekolah. Sehingga Bosscha layak diketahui dan dikunjungi. Soal nantinya para murid akan menggeluti astronomi atau tidak, itu soal masa depan.

Perasaan kagum juga muncul dari wajah-wajah anak didik kami. Ketika seorang panitia membimbing mereka menuju Teropong Zeiss, dengan suara gaduh anak-anak berlarian menuju pintu masuk ke kubah di mana di dalamnya ada teropong raksasa berdiameter 60 centimeter. Di dalamnya mereka dikenalkan sejarah teropong legendaris tersebut, sejarah berdirinya Bosscha, hingga tata cara meneropong benda-benda langit.

Bersamaan dengan kunjungan anak-anak kami, Bosscha juga kedatangan puluhan tamu dari salah satu Taman Kanak-kanak di Bandung. Kedatangan mereka pun tidak kalah riuhnya dengan anak didik kami. Hampir setiap siswa mengabadikan dirinya bersama bangunan kubah Teropong Zeiss. Tampaknya, minat berfoto mereka lebih besar dibandingkan dengan minat terhadap astronomi.

Novitareza, salah seorang siswa kelas 6 di rombongan kami mengaku sangat menikmati kunjungan ke Bosscha. Novi baru pertama kali mengunjungi peneropongan bintang itu. Sebelumnya dia hanya kenal Bosscha lewat buku pelajaran, bahwa Bosscha adalah observatorium terbesar di Asia Tenggara dan satu-satunya yang ada di Indonesia.

Sebelum mengunjungi langsung Bosscha, kesan pertama yang muncul di benak Novi terhadap tempat itu adalah museum. Mungkin buku pelajaran di sekolahnya yang menonjol dari Bosscha adalah bangunan kuno peninggalan Belandanya.

Setelah Novi mengunjungi langsung, ternyata Bosscha adalah tempat penelitian benda-benda astronomi seperti bintang dan bulan. Hanya saja Novi mengaku tidak tertarik mendalami ilmu astronomi. “Saya nggak berniat jadi astronom, apalagi astronot, enggak suka,” ujarnya.

Peneliti Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) Evan I Akbar tidak memungkiri bahwa Bosscha kini adalah tempat penelitian sekaligus tempat kunjungan wisata. Hal itu terjadi sejak Bosscha diambilalih Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai lembaga riset astronomi. Kunjungan makin meningkat ketika status ITB menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada 1999, yang otomatis harus mandiri tanpa mengandalkan subsidi dari negara.

Bosscha awalnya hanya mengemban misi mempopulerkan ilmu astronomi kepada mayarakat. Sehingga waktu itu jumlah pengunjungnya terbatas. Sebelum 1999, jumlah kunjungan paling banyak hanya 100 orang per minggunya, itupun tidak ditarik biaya.

Kini, setelah ITB menjadi BHMN misi Bosscha bertambah karena dituntut untuk menghasilkan biaya bagi kebutuhan operasional dirinya sendiri. Bosscha pun terbuka bagi kunjungan secara umum, bukan hanya untuk kepentingan astronomi saja.

Pengunjung yang ingin berkunjung baik demi astronomi maupun sekedar wisata, dikenai tarif yang persekali masuknya Rp7.500. Sebelum berkunjung, pengunjung harus melakukan reservasi dulu untuk menentukan jadwal kunjungan dari Selasa sampai Jumat untuk kunjungan siang. Dan dalam sebulan, Bosscha juga menyediakan tiga malam untuk kunjungan malam yang dibatasi masksimal 200 orang pengunjung. “Jadi misinya sekarang mempopulerkan astronomi dan kebutuhan,” kata Evan.

Dampaknya, jumlah pengunjung Bosscha membludak. Pertahunnya mencapai 60 ribu pengunjung atau perharinya mencapai 600 pengunjung. Lonjakan pengunjung membuktikan tingginya keingintahuan masyarakat untuk datang langsung ke lokasi peneropongan bintang.

Hal itu dipicu dengan mudahnya menemukan informasi dan gambar antariksa dan benda-benda langit di internet. Keterbukaan informasi membuat orang ingin tahu langsung pusat peneropongan. “Sebenarnya sangat banyak yang reservasi, tapi banyak juga yang kita tolak,” ungkapnya.

Dengan tiket Rp7.500, pengunjung bisa memasuki tiga fasilitas di Bosscha, yakni memasuki Gedung Teleskop Zeiss untuk melihat dan melakukan demonstrasi teleskop tersebut, ruang multimedia untuk menerima penjelasan astronom sekaligus menyaksikan video astronomi, dan jika langit cerah pengunjung juga bisa memasuki Gedung Teropong Surya untuk menyaksikan aktivitas matahari.

Evan menegaskan, banyaknya kunjungan ke Bosscha bukan berarti menunjukkan tingginya mempelajari astronomi. Karena pengunjung ke Bosscha terbagi ke dalam dua golongan.

Pertama, ada yang datang murni karena ingin mengenal astronomi, kedua karena ikut travel atau EO yang memasukan Bosscha ke dalam paket kunjungan mereka. Memang, kebanyakan pengunjung Bosscha adalah anak-anak sekolah. Tetapi minat mereka terhadap astronomi dapat dilihat dari respons mereka saat menerima materi tentang astronomi, banyak yang acuh dan banyak juga yang antusias. “Jadi 50-50-lah antara ilmu dan wisata,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan minat dan pengetahuan astronomi di luar negeri terhadap astronomi, tentu saja para pelajar di Indonesia jauh ketinggalan. Di luar negeri ilmu astronomi sudah masuk ke dalam kurikulum SD secara tersendiri yang dikemas secara menarik.

Kepemilikan teropong pun sudah membudaya hampir di tiap rumah. Begitu juga jumlah observatoriumnya yang jauh lebih banyak dari Indonesia.  Misalnya Jepang yang memiliki 40 observatorium.

Di Indonesia, pernah astronomi masuk menjadi bagian kurikulum yang berada di bawah mata pelajaran geografi yakni IPA. “Sekarang nggak tahu kurikulum itu dikemanakan,” cetus Evan.

Padahal potensi para pelajar Indonesia di bidang astronomi sangat besar. Sejak 2005 Bosscha membuka program pelatihan siswa untuk mengikuti olimpiade astronomi internasional, dan sejak saat itu tiap tahunnya para pelajar Indonesia bisa mendapat emas.

“Anak-anak kita ini pintar-pintar. Meski di sekolah enggak diajarin, hanya dilatih di sini selama tiga bulan, di luar negeri mereka bisa dapat emas,” tuturnya.

 

 

 

KEMENTERIAN AGAMA

MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SUCI KALER

Jl. Jend. Sudirman Kp. Babakan Abid Telp. 0262241677 Garut

Web : https://minsucikaler.wordpress.com

 

 

SURAT TUGAS

No : Mi.10.05/Kp.002/    /2011

Tentang

PEMBAGIAN TUGAS GURU SEBAGAI PEBIMBING SISWA KELAS VI

DALAM KUNJUNGAN INDUSTRI B0SSCHA LEMBANG BANDUNG

 

Kepala MIN Suci Kaler, dengan ini memberikan tugas kepada nama-nama yang tercantum di bawah ini untuk melaksanakan tugas sebagai Pembimbing Siswa kelas VI dalam Kunjungan Industri Bosscha Lembang Bandung  tanggal. 29 Nopember 2011 ;

 

 

No.

Nama

NIP

Jabatan

Kepanitiaan

1

Amas Masdar, S.Ag 19611210 198303 1 009

Kepala

Ketua

 Rombongan

2

Pian Supian, S.Pd.I 19591005 198903 1 004

Guru

Pembimbing

3

Ulumudin, S.Ag 19721120 199803 1 003

Guru

Pembimbing

4

Yayi, S.Ag 19660112 199803 1 005

Guru

Pembimbing

5

Sumarna, S.Pd.I 19690124 200003 1 001

Guru

Pembimbing

6

Dedi Mulyana, S.Pd 19740119 200501 1 001

Guru

Pembimbing

7

D. Samsul Hidayat, S.Ag 19660213 200701 1 022

Guru

Pembimbing

8

M. Yayat Ruhiyat, S.Pd.I 19781220 200710 1 001

Guru

Pembimbing

9

Dedi Kusnadi, A.Ma 19740707 200710 1 003

Guru

Pembimbing

10

Ipin Zaenal Aripin 19720710 200501 1 003

TU

Sekertaris

11

Somadin Sobar, A.Ma 19690505 200701 1 002

Guru

Pembimbing

12

Hilman Pirmansah 19811104 200710 1 001

TU

Pembimbing

13

Taufik Nuari, S.Pd.I  

Guru

Pembimbing

14

Riki Hermawan  

Pustakawan

Pembimbing

Demikian surat tugas ini dibuat agar dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab, apabila terjadi kesalahan di dalamnya akan diadakan perubahan seperlunya.

 

Ditetapkan di : Suci Kaler

Pada tanggal : 28 Nopember  2011

Kepala  MIN Suci Kaler

 

Amas Masdar, S.Ag

NIP.19611210 1983031009

 

GARUT, 29 – 30 OKTOBER 2011

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Garut, 29 Oktober 2011

Program KKM I MIN Suci Kaler yang rutin dilaksanakan salah satunya adalah penyelenggaraan UAS I

Untuk tahun pelajaran 2011/2012 sekarang ini sedikit berbeda karena pembuatan soal UAS I melibatkan guru se KKM I MIN Suci Kaler

Untuk itu sebelum pembuatan naskah soal dilakukan, maka guru-guru yang diberi mandat untuk membuat soal diwajibkan  mengikuti pelatihan pembuatan kisi-kisi soal, kartu soal, dan naskah soal UAS I yang pandu oleh pembimbing dari POKJAWAS dalam hal ini diwakili oleh Bpk. Agus Hasanudin.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Materi Pelatihan bisa di unduh disini :

LANGKAH PENYUSUNAN KISI2

Pengemb Indikator

Pre Test Penilaian

Penulisan & Analisis Soal

PENULISAN-SOAL-Bahan Ujian

Seputar Penilaian

workshop

Format Penelaahan Soal Ujian Sekolah

Penilaian SD – Januari

JADWAL KEGIATAN PEMBUATAN NASKAH SOAL UAS I

 

  1. Pelatihan Pembuatan Naskah Soal tgl 29 Okt 2011
  2. Pembuatan Kisi-kisi soal UAS I tgl 1-6 Nopember 2011
  3. Pembuatan Kartu Soal UAS I tgl 8-13 Nopember 2011
  4. Pembuatan Naskah soal UAS I tgl 15-19 Nopember 2011
  5. Pengetikan Kisi-kisi, kartu soal, dan Naskah soal UAS I tgl 15-19 Nopember 2011 berupa ms.word di kirim ke KKM berupa CD dan print out
  6. Editing Naskah Soal Oleh Guru masing-masing tgl 15-19 Nopember 2011
  7. Editing Oleh KKM tgl 22-26 Nopember 2011
  8. Editing Percetakan tgl 28-30 Nopember 2011
  9. Proses Pencetakan tgl 1-10 Desember 2011
  10. Perkiraan pelaksanaan UAS I tgl 12-17 Desember 2011

Garut, 22 Oktober 2011

Pelatihan Operator Dapodik Tingkat Sekolah

Alhamdulilah mulai dari sekarang Semua Madrasah yang ada lingkungan KKM I MIN Suci Kaler telah mengelola NISN secara mandiri oleh madrasah masing-masing dengan sistem Online ke Dapodik Pusat/Jakarta.

Ucapan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut dalam hal ini diwakili oleh Operator Bagian data yang telah memberikan pelatihan kepada operator tingkat sekolah.

Ucapan terima kasih juga kepada bapak/ibu operator madrasah atas kehadiran dan antusias dalam pengelolaan data siswa melalui aplikasi dapodik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berdasarkan Surat dari Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Jawa Barat

Nomor : Kw.10.4/4/PP.03.2/2228/2011

Tanggal 24 Juni 2011

Perihal Kegiatan Penguatan Tenaga Pengelola Data Pendidikan Tahun 2011

Maka dilaksanakanlah sosialisasi Emis 2011 oleh Mapenda Kanmenag Kab. Garut

Bekerja sama dengan Kanwil Kementerian Agama Prov. Jawa Barat

Bertempat di Hotel Agusta, 31 Okt – 1 Nop 2011

Untuk Anggota KKM I MIN Suci Kaler silahkan download dan isi form dibawah ini

kamis, 10 nop 2011 harus disetorkan!!

PetunjukPengisianInstrumenAlternatif

Instrumen_Pendataan_MI_Alternatif_2001_Ver_1

li-sd_mi

Pelatihan Emis 2011 di lingkungan KKM I MIN Suci Kaler yang bekerja sama dengan Mapenda Kanmenag kab. Garut

Insya Allah akan dilaksanakan hari kamis, 10 Nop 2011

Tempat : MIN Suci Kaler

Waktu : 09.00 – selesai

untuk itu kami mewajibkan kepada anggota KKM I MIN Suci Kaler untuk hadir

Kepala MIS beserta operator dengan membawa laptop dan modem

Materi Pelatihan …

FORMULIR PENDATAAN MI

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

POROPOSAL DAN LAPORAN KEGIATAN

KUNJUNGAN INDUSTRI PT PERKEBUNAN NUSANTARA VIII KEBUN DAYEUHMANGGUNG

GARUT, 29 SEPTEMBER 2011

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.                KUNJUNGAN INDUSTRI Kunjungan Industri (KI) merupakan salah satu program yang telah ditetapkan oleh MIN Suci Kaler guna menyiapkan para siswa dan siswinya mengenal lebih jauh tentang Industri pada umumnya dan Dunia Usaha kerja pada khususnya. Kunjungan Industri merupakan salah satu kegiatan pendidikan yang di lakukan dengan mengunjungai objek-objek perusahaan nasional. Selain itu kunjungan industri juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah. B.                 LATAR BELAKANG DAN DASAR Latar belakang dari pelaksanaan Kunjungan Industri (KI) adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan. dalam  kurikulum tersebut di jelaskan bahwa tujuan MIN Suci kaler adalah: 1.      Terbentuknya prilaku dan akhlak mulia bagi peserta didik sebagai suri tauladan bagi masyarakat dan lingkungannya. 2.      Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minat peserta didik. 3.      Mengembangkan kepribadian yang islami bagi peserta didik. 4.      Mempersiapkan peserta didik  sebagai bagian dan anggota masyarakat yang mampu mengembangkan teknologi dan informasi 5.      Mempersiapkan peserta didik  agar mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Berdasarkah hal-hal tersebut diatas, maka dirasakah bahwa pendidikan yang di peroleh di bangku sekolah ialah materi semata, maka jika hanya mengandalkan ilmu yang di peroleh di bangku sekolah, maka pengetahuan dan ketrampilan siswa akan terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut, maka siswa di ajak untuk mengamati proses produksi maupun administrasi yang di lakukan oleh suatu perusahaan yang di kunjungi.   C.                 TUJUAN KUNJUNGAN INDUSTI Kunjungan Industri di laksanakan dengan maksud agar para siswa mengetahui paham tentang segala sesuatu yang terjadi di suatu perusahaan melalui pengamatan secara langsung. Dengan demikian para siswa dapat mengetahui, memahami, dan  mengkaji seperti apakah dunia industri itu sebenarnya. Dengan demikian maka para siswa diharap dapat membandingkanya dengan ilmu pengetahuan yang selama ini di dapatkan di bangku sekolah. Dengan diadakannya kegiatan kunjungan industri ini maka di harapkan para siswa dapat menambah cakrawala tentang dunia indutrinya. Diharapkan pula para siswa dapat menjadikan sebagai pemicu semangat agar dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan diri sehingga dapat bersaing dalam kehidupan ini. D.                PESERTA KUNJUNGAN INDUSTRI a.      Peserta Pesrta Kunjungan Industri adalah siswa/siswi kelas III MIN Suci Kaler tahun pelajaran 2011/2012 sejumlah 88 siswa dan 15 orang pembimbing. Adapun siswa-siswi tersebut terdiri dari :

    1. Kelas III A sebanyak                          28 orang
    2. Kelas III B sebanyak                          29 orang
    3. Kelas III C sebanyak                          31 orang

Jumlah                        88 orang b.      Dana. Dana kunjungan industri di peroleh dari APBN (DIPA Tahun Anggaran 2011). E.                 WAKTU DAN TEMPATSasaran Objek Kunjungan Industri berdasarkan hasil musyawarah antara Guru dan Satf MIN Suci Kaler pada tanggal 29 September 2011 dan penetapan Kunjungan Industri Tahun 2011/2012 adalah ke Perkebunan Teh Dayeuh Manggung Cilawu Garut. Sedangkan waktu kunjungan industri menggunakan sarana transportasi Bus Karuni Bakti AC.

 

 

 

Jadwal Kegiatan Kunjungan Industri

Waktu

Keterangan

Pk 08.00 WIB

Pk 09.00 WIB Pk 09.00 WIB Pk 10.00 WIB Pk. 12.00 WIB Pk. 13.00 WIBRombongan berangkat/out dari MIN Suci Kaler menuju Cilawu Rombongan tiba di Perkebunan Teh Dayeuh Manggung Garut Rombongan istirahat dan makan Rombongan melakukan kunjungan industri di sekitar Perkebunan Teh Dayeuh Manggung Garut Rombongan Ishoma dan persiapan pulang Rombongan Kembali ke MIN Suci Kaler  

BAB II

KUNJUNGAN

 PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VII

KEBUN  DAYEUHMANGGUNG

 

 

SKW                           :  Ngamplang Kecamatan                 Cilawu Daya Tarik                :  Pekebunan Teh Jarak Tempuh           :  15 km Lingkungan Alam Fisik Perkebunan ini terletak di Desa Subatan Kecamatan Cilawu dan dimiliki oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PTP Nusantara VIII Persero. Konfigurasi lahan umumnya berbukit, dengan kemiringan lahan yang agak curam. Tingkat visabilitas yang ada sangat bebas sehingga kita bisa menyaksikan pemandangan kebun teh yang sangat indah dengan tingkat kebisingan yang rendah karena pabrik pengolahan teh yang menimbulkan suara bising tersebut terdapat di bagian bawah dari perkebunan. Adapun flora dominan adalah pohon teh dan pohon pinus. Batas administrasi dari Perkebunan Teh Dayeuh Manggung ini adalah sebagai berikut : Utara               : Desa Sukamaju Barat               : Desa Sindang Sari Selatan            : Desa Wangun Jaya Timur               : Kabupaten Tasik Aktivitas yang dapat dilakukan di perkebunan ini adalah tracking, hiking, rekreasi hutan, piknik dan bersunyi-sunyi (spooning nook). Pada umumnya pengunjung yang datang ke tempat ini adalah wisatawan domestik dari Garut dan Tasikmalaya dan wisatawan mancanegara berkebangsaan Belanda dan Jepang. Mereka datang karena ingin bernostalgia diperkebunan ini mengingat perkebunan ini dalam sejarahnya pemah dimiliki oleh Pemerintahan Belanda dan Jepang. Aspek Khusus Fasilitas yang tersedia berupa tempat parkir yang berada di depan kantor Perkebunan Teh Dayeuh Manggung dengan kapasitas sekitar 20 kendaraan pribadi, dan dilapisi aspal dengan kondisi yang baik. Fasilitas lainnya berupa pintu masuk dengan kondisi yang baik. Sedangkan untuk fasilitas tempat ibadah berada di pemukiman penduduk. Di perkebunan ini tidak terdapat fasilitas akomodasi dan makan minum, sehingga pengunjung umumnya membawa bekal untuk fasilitas makan minum.   Aksesibilitas Jarak perkebunan ini ke ibukota kecamatan  6 km, sedangkan dari ibukota Kabupaten Garut  15 km. Jalan menuju ke perkebunan ini memiliki lebar sekitar 5 m, dan jalan akses menuju kawasan perkebunan sepanjang 3 km memiliki leber jalan sekitar 3 m.    

BAB III

MATERI KUNJUNGAN

 

 

Dalam upaya mengkonsolidasi peran perusahaan Negara (BUMN) sektor perkebunan dalam kerangka pembangunan nasional dan pembangunan ekonomi serta menyiapkan diri menghadapi gerakan ekonomi global, maka pihak pemerintah bersama Departemen Pertanian melakukan program konsolidasi bagi semua perkebunan Negara. PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII  adalah salah satu diantara perkebunan milik Negara yang didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1996, seperti yang dinyatakan dalam akta Notaris Harun Kamil, S.H., No. 41 tanggal 11 Maret 1996 dan telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan C2-8336.HT.01.01.TH.96 tanggal 8 Agustus 1996. Akta pendirian ini selanjutnya mengalami perubahan sesuai dengan akta Notaris Sri Rahayu Hadi Prasetyo, SH., No. 05 tanggal 17 September 2002 dan telah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. C-20857 HT.01.04.TH.2002 tanggal 25 Oktober 2002. Perusahaan ini didirikan dengan maksud dan tujuan untuk menyelenggarakan usaha di bidang agro bisnis dan agro industri, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan barang dan/ atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. Kegiatan usaha perusahaan meliputi pembudidayaan tanaman, pengolahan/produksi, dan penjualan komoditi perkebunan Teh, Karet, Kelapa Sawit, Kina, dan Kakao. Pusat kegiatan usaha berada di Kantor Direksi Jl. Sindangsirna No. 4 Bandung, Jawa Barat dengan kebun/unit usaha yang dikelola sebanyak 41 kebun yang tersebar di 11 Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Subang, Purwakarta, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis) dan 2 Kabupaten di Propinsi Banten (Lebak dan Pandeglang). Visi Visi PTPN VIII adalah “Menjadi Perusahaan Agribisnis terkemuka dan terpercaya, mengutamakan pelanggan dan kepedulian lingkungan dengan didukung oleh SDM yang profesional“. Misi Misi PTPN VIII adalah: 1.      Menghasilkan produk teh, karet, kelapa sawit, kina dan kakao bermutu dan ramah lingkungan yang dibutuhkan oleh pasar dan mempunyai nilai tambah tinggi. 2.      Mengelola perusahaan dengan good management dan strong leadership, memposisikan sumber daya manusia sebagai aset bernilai, serta mengedepankan kesejahteraan karyawan. 3.      Mengoptimalkan seluruh sumber daya untuk dapat meraih peluangpeluang pengembangan bisnis secara mandiri maupun bersama mitra strategic. 4.      Mengedepankan Corporate Social Responsibility (CSR) seiring dengan kemajuan perusahaan.   SejarahPerusahaan perkebunan milik negara di Jawa Barat dan Banten berasal dari perusahaan perkebunan milik pemerintah Belanda, yang ketika penyerahan kedaulatan secara otomatis menjadi milik pemerintah Republik Indonesia, yang kemudian dikenal dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Lama. Antara tahun 1957 – 1960 dalam rangka nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan perkebunan eks milik swasta Belanda/Asing (antara lain : Inggris, Perancis dan Belgia) dibentuk PPN-Baru cabang Jawa Barat. Dalam periode 1960 – 1963 terjadi penggabungan perusahaan dalam lingkup PPN-Lama dan PPN-Baru menjadi : PPN Kesatuan Jawa Barat I, PPN Kesatuan Jawa Barat II, PPN Kesatuan Jawa Barat III, PPN Kesatuan Jawa Barat IV dan PPN Kesatuan Jawa Barat V. Selanjutnya selama periode 1963 – 1968 diadakan reorganisasi dengan tujuan agar pengelolaan perkebunan lebih tepat guna, dibentuk PPN Aneka Tanaman VII, PPN Aneka Tanaman VIII, PPN Aneka Tanaman IX dan PPN Aneka Tanaman X, yang mengelola tanaman teh dan kina, serta PPN Aneka Tanaman XI dan PPN Aneka Tanaman XII yang mengelola tanaman karet. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan, pada periode 1968 – 1971, PPN yang ada di Jawa Barat diciutkan menjadi tiga Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) meliputi 68 kebun, yaitu :

  • ·PNP XI berkedudukan di Jakarta (24 perkebunan), meliputi perkebunan-perkebunan eks PPN Aneka Tanaman X, dan PPN Aneka Tanaman XI;
  • ·PNP XII berkedudukan di Bandung (24 perkebunan), meliputi beberapa perkebunan eks PPN Aneka Tanaman XI, PPN Aneka Tanaman XII, sebagian eks PPN Aneka Tanaman VII, dan PPN Aneka Tanaman VIII;
  • ·PNP XIII berkedudukan di Bandung (20 perkebunan), meliputi beberapa perkebunan eks PPN Aneka Tanaman XII, eks PPN Aneka Tanaman IX, dan PPN Aneka Tanaman X.

Sejak tahun 1971, PNP XI, PNP XII dan PNP XIII berubah status menjadi Perseroan Terbatas Perkebunan (Persero). Dalam rangka restrukturisasi BUMN Perkebunan mulai 1 April 1994 sampai dengan tanggal 10 Maret 1996, pengelolaan PT Perkebunan XI, PT Perkebunan XII, dan PT Perkebunan XIII digabungkan di bawah manajemen PTP Group Jabar. Selanjutnya sejak tanggal 11 Maret 1996, PT Perkebunan XI, PT Perkebunan XII, dan PT Perkebunan XIII dilebur menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

Wilayah Kerja
Daftar kebun per kabupaten

Kabupaten

             Kebun             Budidaya
• Pandeglang Sanghyang Damar Karet dan Sawit
• Lebak Kertajaya Sawit
• Lebak Cisalak Baru Karet dan Sawit
• Lebak Bojong Datar Karet dan Sawit
• Bogor Cikasungka Karet
• Bogor Cimulang Karet
• Bogor Gunung Mas Teh
• Bogor Cianten Teh
• Sukabumi Sukamaju Karet
• Sukabumi Parakan Salak Teh
• Sukabumi Cibungur Karet
• Sukabumi Pasir Badak Karet dan Kakao
• Sukabumi Cikaso Karet
• Sukabumi Goapara Teh dan Kina
• Cianjur Gedeh Teh
• Cianjur Panyairan Teh
• Cianjur Pasirnangka Teh
• Cianjur Agrabinta Karet
• Bandung Sinumbra Teh dan Kina
• Bandung Rancabali Teh dan Kina
• Bandung Rancabolang Teh dan Kina
• Bandung Pangheotan Teh dan Kina
• Bandung Bukit Tunggul Kina
• Bandung Montaya Teh
• Bandung Pasirmalang Teh dan Kina
• Bandung Kertamanah Teh dan Kina
• Bandung Malabar Teh
• Bandung Purbasari Teh
• Bandung Sedep Teh
• Bandung Talun Santosa Teh
• Subang Jalupang Karet
• Subang Wangunreja Karet
• Subang Ciater Teh
• Subang Tambaksari Teh, Kina dan Kakao
• Purwakarta Cikumpay Karet
• Garut Papandayan Teh
• Garut Cisaruni Teh
• Garut Dayeuh Manggung Teh
• Garut Bunisari Lendra Karet
• Garut Mira mare Karet dan Kakao
• Tasikmalaya Bagjanagara Karet dan Kakao
• Ciamis Batulawang Karet dan Kakao
• Banjar Cikupa Karet

  KomoditiPT Perkebunan Nusantara VIII merupakan BUMN yang bergerak pada sektor perkebunan dengan kegiatan usaha meliputi pembudidayaan tanaman, pengolahan, dan penjualan komoditi perkebunan seperti teh, karet dan sawit sebagai komoditi utamanya, serta kakao dan kina sebagai komoditi pendukungnya. Sampai saat ini, PT Perkebunan Nusantara VIII mengelola 41 kebun dan 1 unit rumah sakit. yang tersebar di 11 kabupaten/kota di Jawa Barat dan 2 kabupaten di Propinsi Banten.

Nilai-nilai Luhur
Nilai-nilai luhur merupakan landasan insan PTPN VIII dalam melakukan interaksi dengan pihak-pihak didalam maupun di luar perusahaan. Pesan moral danetika akan selalu terkandung dalam nilai-nilai luhur tersebut, sehingga menjadi inspirasi pendorong dan acuan bagi setiap insan PTPN VIII dalam berpola pikir dan berpola tindak untuk mewujudkan pengelolaan perusahaan secara sehat dan beretika.

Nilai-nilai luhur itu tertanam dalam budaya perusahaan yaitu WALAGRI JATI UTAMA. Arti harfiah WALAGRI JATI UTAMA adalah sebagai berikut : 1. Walagri berasala dari bahasa Sunda yang merupakan bahasa ibu dimana PTPN VIII berdomisili, yang mengandung arti sehat lahir bathin, penuh kesempurnaan, dan penuh semangat. 2. JATI, memiliki makna jati diri atau kepribadian yang unggul. 3. UTAMA, mengandung makna nomor satu, fokus dan pusat perhatian. Disamping memiliki arti harfiah, WALAGRI JATI UTAMA juga mengandung makna filosofis bahwa kelima nilai luhur perusahaan tersebut harus menjadi jati diri insan PTPN VIII dalam rangka membentuk pribadi-pribadi yang unggul sehingga dapat menggerakkan aktifitas perusahaan menuju kepada kinerja perusahaan yang sehat. Adapun pengertian dari masing-masing nilai luhur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Takwa adalah terpeliharanya sikap diri untuk tetap taat menjalankan segala perintah Allah dan menjauhkan laranganNya. Takwa merupakan landasan spiritual yang diyakini oleh insan PTPN VIII sebagai nilai luhur yang akan menjadi inspirasi dalam melakukan bisnis maupun operasional perusahaan yang bermoral dan beretika. 2. Keteladanan merupakan perbuatan ataupun sikap yang patut ditiru.Sebagai nilai luhur yang diinginkan oleh insan PTPN VIII, suri tauladan dari para pimpinan merupakan contoh efektif yang mudah ditiru oleh para bawahan. Untuk itu setiap atasan hendaknya memberikan contoh sikap perbuatan yang baik, sehingga patut ditiru oleh anak buahnya. Namun demikian keteladanan ini tidak semata-mata hanya dilakukan oleh atasan saja, akan tetapi setiap insan PTPN VIII juga harus dapat memberikan keteladanan juga bagi insan PTPN VIII lainnya. 3. Integritas merupakan keterpaduan ataupun keutuhan prinsip moral dan etika yang mencakup kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, tanggung jawab dan obyektivitas yang menjadi landasan bagi insan PTPN VIII dalam melakukan kegiatan ataupun tugas yang diembannya. 4. Kerjasama Tim merupakan nilai luhur insan PTPN VIII yang dilandasi dengan sikap keterbukaan dan saling menghormati yang diarahkan kepada tujuan dan kepentingan perusahaan. Nilai luhur kerjasama tim ini menjiwai insan PTPN VIII dalam setiap kegiatan operasional perusahaan. 5. Mengutamakan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan dapat terwujud jika para pelanggan terpenuhi kebutuhan dan keinginannya baik melalui produk maupun layanan dari PTPN VIII. Sebagai nilai luhur yang dimiliki oleh insan PTPN VIII, kepuasan pelanggan menjadi faktor yang sangat mendasar bagi PTPN VIII untuk kelangsungan hidup perusahaan. Untuk itu setiap tindakan yang berkaitan dengan tugas-tugas perusahaan, insan PTPN VIII harus mengutamakan kepuasan pelanggan.  

Komisaris

Usman Basjah (Komisaris Utama)Menjabat Komisaris Utama sejak tahun 2008. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Deputi IV Menko Polkam Bidang Pertahanan Negara dan Komisaris di PT Nindya Karya.

Gunawan (Komisaris)

Menjabat Komisaris sejak tahun 2008. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Produksi PT Perkebunan Nusantara III dan XIV.

A. Firman Taufick (Komisaris)Menjabat Komisaris sejak tahun 2008. Sampai dengan saat ini masih menjabat sebagai Senior Advisor Marketing Communication di Bank BRI. Sebelumnya pernah berkarir di PT Kemchick Group, PT ARGILL Indonesia, PT Nestle Indonesia, PT Gobel Dharma Nusantara, PT Media Network Consolidated dan aktif sebagai konsultan.

Aries Muftie (Komisaris)

  Menjabat Komisaris sejak tahun 2008. Sampai dengan saat ini masih menjabat sebagai komisaris PT Indonesia Power dan Advisor Kepala BNP2TKI di Depnakertrans. Sebelumnya pernah berkarir di BUMN dan Staf Ahli Menteri Negara BUMN.

Herry Suhardiyanto (Komisaris)Menjabat Komisaris sejak tahun 2008. Sampai dengan saat ini masih menjabat sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB).

Alirahman(Komisaris)

   Menjabat Komisaris sejak tahun 2008. Sebelumnya pernah menjabat di Bapenas, BKN, Sekretariat Negara, Komisaris PT Perkebunan Nusantara XII dan sampai dengan saat ini masih menjabat juga sebagai Direktur Pascasarjana UIEU.

Direksi

Bagas Angkasa (Direktur Utama)Menjabat Direktur Utama sejak tahun 2009 dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana KPB PTPN, Direktur Pemasaran PT. Perkebunan Nusantara V dan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XII.

Agus Supriyadi (Direktur Komoditi Teh)

Menjabat DirekturKomoditi Teh mulai tahun 2009 dan menjabat sebagai Direktur Pemasaran, Perencanaan dan Pengembangan PT. Perkebunan Nusantara VIII dan pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan PT PAL.

Endhang Rachmat (Direktur Komoditi Non Teh)Menjabat Direktur Komoditi Non Teh sejak tahun 2009, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Produksi di PT Perkebunan Nusantara VIII dan pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Tanaman dan Administratur di PT Perkebunan Nusantara VIII.

Dadi Sunardi (Direktur SDM dan Umum)

            Menjabat Direktur SDM dan Umum sejak tahun 2007, dan sebelumnya menjabat sebagai Administratur Kebun di PT Perkebunan Nusantara VIII.

Ishak Z. Soediredja (Direktur Keuangan) Menjabat Direktur Keuangan sejak bulan September tahun 2007 dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala bagian Corporate Secretary dan kepala bagian SDM di PT Perkebunan Nusantara IV.

       

Manajemen

BAGIAN/ UNIT BISNIS

Bagian/ Unit Bisnis

Kepala Bagian/ Manajer

Sekretaris Perusahaan

Dikdik Koesnandi W.

Satuan Pengawasan Intern

Abdul Hadi

Bagian Tanaman Teh

Oce Darmawan

Bagian Teknik dan Pengolahan Teh

Aan Burhanudin

Bagian Pemasaran Teh

Yayat Supriatna

Bagian Tanaman Non Teh

Budiharjo

Bagian Teknik Pengolahan Non Teh

Dida Sumingkar Maulana

Bagian SDM

Mukhlis Effendi

Bagian Hukum dan Umum

Agus Iskandar

Bagian Pengadaan Barang dan Jasa

Ahmad Kertabumi S.

Bagian Keuangan

Doddy Rasyidi

Bagian Akuntansi

Dadang Mulyadi

Bagian Perencanaan, Pengembangan

Agus Wisma

Manajer Grup Teh 1

Bambang Murtioso

Manajer Grup Teh 2

Tedi Surachman

Manajer Grup Non Teh 1

Heri Herman Yusuf

Manajer grup Non Teh 2

Abdul Kadir Mahmud

Manajer Rumah Sakit

Yep Ruchiat S.

Manajer Agrowisata

Wahyu Gumelar

Manajer Industri Hilir Teh

Andriani Nasution

KEBUN

Kebun

Administratur

Kertajaya

Heri Hermawan

Bojong Datar

S.F.Kastoyo

Cisalak Baru

Sri Hermawan

Cikasungka

Ayub Akbar Rais

Sukamaju

Teddy Tarunajaya

Cianten

Salan Indrayani

Gunung Mas

Yani Dahyani

Parakan Salak

Dudih Setiadi

Gedeh

Yayat Adisaputra

Sedep

Gunara

Talun Santosa

Haryusdianto Eka Putra

Purbasari

Acep Sutiana

Malabar

Dian Hadiana Arief

Pasir Malang

Judi Yustiadi

Kertamanah

Yuyu Yandani

Rancabolang

Bambang H. Santoso

Rancabali

Dede Kusdiman

Sinumbra

Wiku Sapto Martani

Ciater

Doddy Haryadi Hanafi

Tambaksari

Tatang Supriyatna

Bukit Tunggul

Budi Mulyana

Cibungur

Hardi Suhardi D.

Pasir Badak

Supriyatna Sonjaya

Cikaso

Irwansyah

Agrabinta

Dadan Wiherman

Goalpara

Nandi Suhandi

Pasir Nangka

Gatot Setyabudi

Panyairan

Hendra Mardiana

Montaya

Nelwan Kertanegara

Pangheotan

Nana Sumana

Jalupang

Agus Insan Mashudi

Cikumpay

Agus Sudradjat

Wangunreja

Riana Lusi

Bunisari Lendra

Tommy Komara M.

Miramare

Ajat

Bagjanegara

Achmad Mulyana

Batulawang

Setia Moelyana

Cikupa

Yusuf Supriadi

Cisaruni

Purnama Hilma

Papandayan

Rachmat Supriyadi

Dayeuhmanggung

Agus Dirgahayu

  Anak Perusahaan PTPN VIII memiliki anak perusahaan yaitu PT Sinkona Indonesia Lestari (PT SIL) yang bergerakdalam industri hilir kina terpadu, dengan mengolah lebih lanjut kulit kina yang dihasilkan PTPN VIIImenjadi kinine dan kinidine. Anak perusahan ini merupakan kerjasama antara PTPN VIII, PT Kimia Farma dan Yayasan Kartika Eka Paksi, dengan keseluruhan modal saham disetor Rp.8.576 juta. Penyertaan PTPN VIII sebesar 65% dari seluruh saham disetor. Produk yang dihasilkan dijual ekspor dan kualitasnya telah mendapat pengakuan internasional dengan diperolehnya sertifikat ISO 9002 tahun 1999, ISO 14001, Good Manufacturing Practice (GMP) serta Food and Drug Administration (FDA) Approval tahun 1998. Penyertaan Penyertaan PTPN VIII dilakukan pada 4 perusahaan yaitu: 1. PT Bio Industri Nusantara (PT Bionusa) 2. Hamburg-Indonesische Import Gesellschaft mit Beschrankten Haptung, GmbH (Indoham GmbH) 3. PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT KPBN) 4. PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) 5. PT Bakti Usaha Menanam Nusantara Hijau Lestari I (PT BUMN HL I) PT Bio Industri Nusantara (PT Bionusa) PT Bionusa merupakan perusahaan afiliasi yang bergerak di bidang produksi pupuk hayati biofertilizer “EMAS”, sesuai dengan Surat Menteri Negara Pendayagunaan BUMN/Kepala Badan Pembinaan BUMN No.:S-269/M-PBUMN/99 tanggal 9 Juni 1999 dan Surat Komisaris No.: DK/VIII/047/X/1998 tanggal 15 Oktober 1998. Pemegang saham PT Bionusa adalah PTP Nusantara VIII, PTP Nusantara III, PTP Nusantara V dan PTP Nusantara VII dengan komposisi sama (masing-masing 25%).   Indoham GmbH Hamburg-Indonesische Import Gesellschaft mit Beschrankten Haptung, GmbH (Indoham GmbH), pada awalnya merupakan perusahaan patungan antara PT Perkebunan Nusantara dengan empat perusahaan dagang Jerman yang bergerak dalam perdagangan komoditi perkebunan, selanjutnya kepemilikan diambil alih seluruhnya oleh PTP Nusantara, sehingga sampai dengan tahun 2003 saham Indoham 100% dimiliki PTP Nusantara, dengan kepemilikan PTP Nusantara VIII sebesar 14%. Pada tahun 2003 dilakukan restrukturisasi modal dengan masuknya investor baru sebagai pemegang saham Indoham GmbH., sehingga kepemilikan saham PTPN VIII menjadi 6% dari total saham. PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT KPBN) PT KPBN adalah perusahaan baru yang merupakan transformasi dari Kantor Pemasaran Bersama (KPB) yang menjadi badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas. Nilai saham yang dimiliki PTPN VIII adalah sebesar Rp. 1.000.000.000,00. PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) PT RPN adalah perusahaan baru yang merupakan transformasi dari Lembaga Riset Perkebunan Indonesia yang menjadi badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas. Nilai saham yang dimiliki PTPN VIII adalah sebesar Rp. 50.000.000,00. PT Bakti Usaha Menanam Nusantara Hijau Lestari I (PT BUMN HL I) PT BUMN HL I adalah perusahaan baru yang didirikan bersama dengan BUMN lainnya yaitu Perum Jasa Tirta II, Perum Perhutani, PT Sang Hyang Seri dan PT Pupuk kujang. Nilai saham yang dimiliki PTPN VIII adalah sebesar Rp. 500.000.000,00.   PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) memiliki beberapa organisasi, antara lain :

SP-Bun
IKBI
Puskopkar

 Produk

Agrowisata

Industri Hilir Teh

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP

 

 

 

A.                Kesimpulan

  1. PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII  adalah salah satu diantara perkebunan milik Negara yang didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1996, seperti yang dinyatakan dalam akta Notaris Harun Kamil, S.H., No. 41 tanggal 11 Maret 1996 dan telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan C2-8336.HT.01.01.TH.96 tanggal 8 Agustus 1996. Akta pendirian ini selanjutnya mengalami perubahan sesuai dengan akta Notaris Sri Rahayu Hadi Prasetyo, SH., No. 05 tanggal 17 September 2002 dan telah mendapat persetujuan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. C-20857 HT.01.04.TH.2002 tanggal 25 Oktober 2002.
  2. Perusahaan ini didirikan dengan maksud dan tujuan untuk menyelenggarakan usaha di bidang agro bisnis dan agro industri, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan barang dan/ atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

B.                 Saran   1. Agar semua pengusaha meningkatkan kualitas produk yang di hasilkan sehingga produk tersebut dapat bersaing di pasaran nasional/ internasional. 2. Agar para pengusaha maju mau memperhatiakan lingkungan sekitarnya terutama masalah kesejahteraan masyarakat sekitanya. 3. Agar perusahaan memiliki tenaga kerja yang lebih mempunyai keahlian/kertrampilan sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas. C.                Penutup Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa penyusun telah dapat menyelesaikan tugas secara tertulis. Dengan demikian selesai sudah tugas penyusun dalam rangka mengadakan kunjungan industri pada PT. Perkebunan Nusantara VIII Kebun Dayeuhmanggung Garut. Perusahaan yang terletak di Kecamatan Cilawu Kabupaten Garut pelaksanaan Kunjungan Industri selama 1 hari. Laporan ini dibuat untuk dokumentasi kegiatan kunjungan industri Tahun Anggaran 2011 pada MIN Suci Kaler Karangpawitan Garut. Didalam penyusunan lapaoran ini penyusun menyadarai masih banyak kekurangan. Oleh karena itu mohon saran dan kritik yang sifatnya membangun guna sempurnanya laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca kususnya bagi penyusun.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

FOTO PORSENI MI KE-2 TINGKAT KABUPATEN GARUT

TAHUN 2011

SUCI KALER, 28 SEPTEMBER 2011

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.